Ketua Asosiasi Gula Bersatu Kalimantan Selatan Aftahudin di Banjarmasin, Selasa, memprediksi krisis gula pasir yang melanda daerah itu akan terjadi hingga Mei 2012.
Menurut Aftahudin, bila pihaknya tidak segera mendapatkan tambahan persediaan gula dari beberapa provinsi lain, maka Kalsel akan kekurangan hingga 40 ribu ton dalam beberapa bulan ke depan.
"Pada dasarnya krisis gula juga terjadi secara nasional, menurut informasi pemerintah pusat akan segera mendatangkan gula mentah dari beberapa negara," katanya.
Selain itu, kata dia, krisis gula di Kalsel terjadi karena gula pasir di gudang PTPN X kosong, kalau pun ada merupakan titipan pedagang yang harganya sudah naik.
Berdasarkan surat dari Kementerian Perdagangan, menurut dia, distributor wilayah Kalimantan Selatan hanya diperbolehkan mengambil gula pasir dari PTPN X.
Mengatasi kelangkaan tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan telah mengirimkan surat ke Kementerian Perdagangan agar Kalsel diberikan dispensasi dengan memanfaatkan gula rafinasi untuk keperluan rumah tangga, mengingat kebutuhan gula di daerah ini cukup tinggi.
Selama ini gula pasir rafinasi di Kalsel hanya boleh digunakan untuk kebutuhan industri bukan untuk rumah tangga. "Harapan kita saat terjadi krisis gula seperti ini pemerintah pusat memberikan dispensi agar kita bebas mendatangkan gula rafinasi dari Makassar, Cilegon maupun Jawa Timur agar stok gula kita aman," katanya.
Berdasar data Asosiasi Gula Bersatu Kalsel, persediaan gula yang saat ini hanya sekitar 4.000 ton, padahal kebutuhan gula Kalsel sekitar 6.000 ton per bulan.
Krisis gula pasir di Kalsel mulai dirasakan masyarakat sejak Januari 2012, dimana harga gula yang semula hanya Rp9.000 merangkak naik menjadi Rp10.000 per kilogram dan kini mencapai Rp11.000 per kilogram.
Sejumlah pedagang gula di pasar tradisional Banjarmasin mengeluhkan kenaikan harga itu dan meminta pemerintah segera mengambil langkah agar krisis itu segera diatasi.
Salah seorang pedagang di Pasar Teluk Dalam Banjarmasin Rusdi mengatakan, kenaikan harga gula pasir itu justru meresahkan pedagang kecil seperti dirinya karena keuntungan yang diambil tidak terlalu besar.
"Biasanya modalnya Rp10.000 dan kita jual Rp10.500 per kilogram dan paling mahal Rp11.000," kata dia. Sukimah, salah seorang ibu rumah tangga yang ditemui di Pasar Teluk Dalam berharap pemerintah dapat segera menurunkan harga gula sesuai daya beli masyarakat menengah ke bawah yakni Rp8.000 hingga Rp9.000 per kilogram./B/ D
Editor : Asmuni Kadri
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.