Sapi pembibitan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan jenis Limosin yang dibeli dari Australia tertahan di Jawa Timur karena gelombang dan cuaca buruk yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Kepala Dinas Peternakan Kalimantan Selatan Maskamian Anjam di Banjarmasin, Rabu mengatakan, dua sapi Limosin tersebut merupakan sapi dengan kualitas super yang bakal dijadikan sebagai pejantan untuk membuahi sapi-sapi betina Kalsel.
"Dua sapi kualitas eksklusif tersebut akan diambil mani untuk dijadikan mani beku dan selanjutnya dimanfaatkan untuk membuahi sapi-sapi betina di Kalsel," katanya.
Satu ekor sapi Limosin, kata dia, bisa dimanfaatkan untuk membuahi sekitar 300 ekor sapi betina, sehingga dengan dua sapi Limosin diharapkan spermanya akan mampu membuahi 600 ekor sapi.
Saat ini kedua sapi tersebut sedang dititipkan di Balai Inseminasi Buatan di daerah Singosari Jawa Timur sambil menunggu kondisi cuaca mereda dan memungkinkan sapi-sapi yang seharusnya sampai di Kalsel pada awal Januari tersebut diangkut dengan kapal.
"Kalau sampai terjadi sesuatu terhadap sapi-sapi tersebut kerugiannya cukup besar, karena harga sapinya cukup mahal belum lagi biaya angkutnya," katanya.
Selain dua sapi Limosin tersebut, pihaknya juga mendatangkan empat ekor sapi Bali eksklusif untuk kepentingan yang sama.
Sementara itu, menanggapi kenaikan harga daging sapi di pasaran dari Rp65 ribu menjadi Rp75 ribu dengan alasan karena gelombang tinggi dan cuaca buruk Maskamian membantahnya.
Menurut dia, saat ini Kalsel adalah provinsi yang mampu memenuhi kebutuhan daging sendiri tanpa harus tergantung dengan daerah lain, sehingga gelombang mauapun cuaca buruk tidak akan berpengaruh terhadap stok daging.
"Kalau ada pedagang yang menaikkan harga daging dengan alasan cuaca buruk itu hanya akal-akalan saja untuk memanfaatkan kondisi cuaca," katanya.
Padahal tambah Maskamian, kalau dari peternak, tidak mungkin manikkan harga dengan alasan cuaca buruk.
"Stok kita sangat mencukupi, baik di Pelaihari, Hulu Sungai Utara dan di daerah lain, Kalsel tidak akan mungkin kekurangan daging, karena kita daerah yang telah swasembada," katanya.
Menurut Maskamian, kalau ada kenaikan harga daging, kemungkinan karena adanya kebijakan pemerintah pusat yang melarang melakukan impor daging dari luar negeri.
Kebijakan tersebut, mendongkrak harga daging dan ternak nasional sehingga para peternak kini bisa hidup lebih baik karena harga daging nasional yang juga mulai membaik./B/D
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.