Pengembangan kebun kelapa sawit dan karet di wilayah Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, belakangan ini terkendala minimnya lahan.


"Kami sudah tidak bisa lagi memperluas kebun karet dan kelapa sawit," kata seorang petani di Kotabaru, Abu Bakar, Sabtu.

Ia mengatakan, karena sudah tidak ada lagi lahan kosong, hampir sebagian besar areal di Kecamatan Kelumpang Selatan sudah berupa kebun sawit dan kebun karet.

Padahal, lima tahun lalu puluhan ribu hektare areal tersebut masih berupa lahan tidur berupa ilalang dan semak belukar.

Mursalin, yang juga petani sawit mengatakan, sudah dua tahun ini dirinya belum mendapatkan lahan untuk ditanami kelapa sawit atau karet.

"Petani tidak lagi menjual lahanya, karena hasil berkebun karet atau kelapa sawit cukup menggiurkan," ujarnya.

Rencananya, Mursalin akan membeli sedikitnya lima hektare lahan kosong untuk ditanami kelapa sawit, namun sudah dua tahun ini lahan tersebut belum ia dapatkan.

Seorang petani karet Ninuk, mengatakan, setiap hektare kebun karet bisa menghasilkan sekitar Rp8 juta per bulan.

"Apabila disadap sendiri, setiap hektare bisa menghasilkan sekitar Rp8 juta per bulan," terang dia.

Akan tetapi apabila dikerjakan oleh orang lain, hasilnya akan berkurang sekitar sepertiga bagian dari jumlah Rp8 juta.

Suparno warga Kotabaru juga mengaku berminat untuk menanam karet dan kelapa sawit, namun hingga saat ini pihaknya masih belum menemukan petani yang akan menjual lahannya.




Editor : Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026