Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) Kalimantan Selatan yang sebagian besar kawasan pertaniannya di lahan rawa pada tahun 2011 dan 2012 ini mentargetkan produksi padi 50 ribu ton.
Target sebesar itu berarti mengalami kenaikan dibandingkan dengan target tahun 2009 dan 2010 yang hanya sekitar 27 ribu ton, kata Wakil Bupati HSU Syadillah di Banjarmasin, Jumat.
ia mengatakan, target tersebut ditetapkan karena pihaknya yakin cuaca selama 2012 akan lebih bersahabat bagi petani dibanding tahun sebelumnya.
"Pada 2010 terjadi musim hujan sepanjang tahun, dan 2011 ini cuaca relatif bagus yaitu musim kemarau disertai hujan yang sekali-kali turun," katanya.
Kondisi tersebut, kata dia, sangat mendukung terhadap peningkatan produksi padi di daerah yang sebagian besar lokasi pertaniannya di rawa atau lahan lebak.
Selain faktor cuaca, kata dia, saat ini telah ditemukan benih padi unggul yang tahan terhadap banjir atau genangan serta tahan terhadap kemarau.
Dengan demikian, kata dia, diharapkan, musim tanam dan produksi padi di HSU tidak lagi terpengaruh terhadap musim, baik musim hujan maupun musim kemarau.
"Penemuan benih padi unggul yang tahan terhadap berbagai musim tentunya sangat membantu petani untuk tetap bisa berproduksi," katanya.
Pada 2010, hampir seluruh petani di HSU tidak bisa bercocok tanam, sehingga produksi padi menjadi anjlok.
Kendati demikian, tambah Syadillah, daerah lumbung padi Kalsel tersbut tetap surplus beras, sehingga tetap bisa menyumbang Kalsel sebagai penyangga pangan nasional.
Apalagi dengan beroperasinya polder Alabio sehingga pengairan atau irigasi lahan petani bisa diatur sesuai dengan kebutuhan.
"Kalau dulu 27 ribu ton saja kita sudah bisa surplus, maka pada 2011-2012 dengan target 50 ribu ton akan mampu memberikan sumbangan ketahanan pangan untuk Provinsi Kalsel," katanya.
Sebagaimana diketahui, kendati belum 100 persen, polder Alabio yang ada sejak jaman Belanda tersebut kini kembali bisa dioperasionalkan.
Operasional tersebut sebagai salah satu upaya untuk mendungkung program nasional surplus beras 10 juta ton pada 2014.B
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.