Tujuh bangunan yang terdiri atas enam buah rumah tinggal dan satu mushala di Desa Malinau, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan hanyut diterjang air bah, Senin.
        
Menurut Anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) setempat, Rival Cahyadi di Kandangan, ibu kota Hulu Sungai Selatan, air bah datang tiba-tiba dan cukup cepat.
        
"Gelombang air bah terjadi sekitar pukul 14.20 Wita dengan sangat cepat setelah sebelumnya turun hujan lebat," ujarnya.
        
Meski terjadi tidak lebih dari 30 menit namun terjangan air bah berhasil menghancurkan dan menghanyutkan enam rumah dan satu mushala yang dibangun di bantaran Sungai Amandit hingga hilang tidak berbekas.
        
Terjangan air bah juga membuat satu jembatan di Desa Tanuhi di kecamatan yang sama menjadi miring sehingga nyaris tidak dapat dilalui.
        
"Saat ini air Sungai Amandit sudah mulai surut meski debitnya masih lebih tinggi dari biasa yaitu naik sekitar satu meter," katanya.
        
Hingga kini tim Tagana dan unsur Muspika setempat masih berada di lokasi untuk melakukan evakuasi terhadap korban yang rumah mereka hilang diterjang air bah.
        
Para korban sementara diungsikan ke rumah penduduk yang letak rumahnya lebih jauh dari daerah aliran Sungai Amandit.
        
"Berdasarkan hasil koordinasi kami dengan pihak kecamatan setempat rencananya akan segera dibangun dapur umum," tambahnya.
        
Meski luapan air bah sudah surut tetapi dikhawatirkan akan melanda dan menerjang pemukiman penduduk di Kota Kandangan yang mendiami bantaran Sungai Amandit.
        
Karena itu beberapa petugas Unit Reaksi Cepat Tim Tagana setempat bergerak menuju Kota Kandangan untuk melakukan antisipasi dan upaya meminimalisasi kemungkinan adanya korban.
        
Pemukiman penduduk yang berada di sepanjang bantaran Sungai Amandit dari Desa Malinau hingga Kota Kandangan diperingatkan agar berhati-hati terhadap kemungkinan diterjang air bah, demikian Rival Cahyadi.


: Abdul Hakim Muhiddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026