Warga Kalimantan Selatan adalah peminum jamu terbesar nasional yaitu mencapai 80,71 persen, kata Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan, Rosihan Adhani di Banjarmasin, Rabu.


Menurut Rosihan, prosentase tersebut jauh lebih besar dibanding rata-rata nasional yang hanya sekitar 59,12 persen per tahun.

Besarnya jumlah peminum jamu di daerah kaya sumber daya alam ini, kata Rosihan, sebagai salah satu tanda bahwa warga Kalsel penyuka obat-obatan alami atau herbal yang memang cukup banyak di jumpai di hutan Kalimantan.

"Berdasarkan hasil penelitian rata-rata warga Kalsel penyuka jamu beras kencur, pace dan temu lawak, yang semua bahan bakunya ada di Kalsel," katanya.

Cukup besarnya minat masyarakat untuk mengonsumsi obat-obatan alami, tambah dia, tidak menutup kemungkinan rumah sakit di Kalsel akan direkomendasikan untuk bisa melakukan pengobatan herbal seperti di Cina selain obat-obatan kimia.

Menurut Rosihan, Kalsel memiliki kekayaan alam tumbuhan yang cukup potensial untuk bisa diolah menjadi bahan obat-obatan herbal maupun kimia antara lain adalah pasak bumi.

Jenis tumbuhan obat-obatan khas Kalsel tersebut cukup dikenal tidak hanya di dalam negeri bahkan hingga luar karena fungsi dari tumbuhan tersebut untuk tetap menjagi vitalitas.

Bahkan kata dia, jamu Tongkat Ali dari Malaysia yang juga cukup terkenal, bahan bakunya adalah pasak bumi dari Kalimatan yang diolah dengan teknologi canggih di negara tersebut.

"Saya bayangkan, Pasak Bumi Kalimantan nantinya bisa diolah dengan baik sehingga bisa menyaingi viagra yang kini telah mendunia," katanya.

Sayangnya, sampai saat ini di Kalsel belum memiliki teknologi yang bisa mengolah ekstrak pasak bumi tersebut menjadi obat yang paten maupun herbal.

Kalaupun ada yang mulai memanfaatkan tumbuhan berkasiat menjaga vitalitas tersebut, masih diolah dengan sistem manual sehingga belum memberikan dampak ekonomi maupun kesehatan secara maksimal.

Di Indonesia kata dia, terdapat 30 rbu spesies yang bisa diolah menjadi obat-obatan. Dari jumlah tersebut baru 860 jenis yang dimanfaatkan dan 350 jenis yang dimanfaatkan untuk industri./B*C


 




Editor : Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026