Antrean panjang kendaraan bermotor di sejumlah Statiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) di Banjarmasin dan sekitarnya mewarnai suasana Idul Adha 1432 Hijriah.
Antrean panjang kendaraan bermotor itu terutama untuk memperoleh Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, baik jenis premium dan solar pada SPBU, seperti di Jalan A Yani Km5,5 dan Km6, serta Jalan A Yani Km9.
Sementara pada SPBU yang melayani BBM non subsidi tidak terlihat antrean panjang, bahkan seperti di Jalan S Parman, hampir tak ada mobil pengguna solar yang mampir, untuk mengisi bahan bakarnya.
Begitu pula pada SPBU yang dikelola usaha perminyakan swasta, seperti AKR yang terdapat di daerah hulu sungai atau "Banua Enam" Kalsel, tidak terlihat banyak antre ataupun antrean panjang.
Suasana antrean panjang kendaraan bermotor, bukan cuma saat hari lebaran Idul Adha 1432 H, tapi juga sehari sebelumnya sudah nampak pada sejumlah SPBU di Banjarmasin dan sekitarnya.
Bahkan pada hari lebaran Idul Adha 1432 H yang bertepatan 6 November 2011, BBM jenis premium juga kosong pada sejumlah SPBU di "kota seribu sungai" Banjarmasin.
Sebagai contoh, pada SPBU Jalan A Yani Km6 terpampang tulisan "premium lagi dalam perjalanan" dan di SPBU Jalan A Yani Km5,5 terlihat plang bertuliskan "premium belum datang."
Sementara anteran mobil, khususnya jenis truk dan bus/mini bus untuk mendapatkan solar bersubsidi di SPBU hampir tak pernah pupus, sejak menjelang lebaran Idul Fitri lalu.
"Untungnya harga eceran premium dan solar di luaran atau pedagang kaki limam tidak melambung, walau di SPBU sedang kosong," ujar Fi'e dan Yuni, warga Banjarmasin.
Oleh karena di SPBU sedang kosong, sehingga pedagang eceran premium dan solar menjadi sasaran warga yang menggunakan kendaraan bermotor, untuk jalan-jalan atau keperluan lain.
Harga eceran BBM di PKL dalam dua hari terakhir, untuk jenis premium berkisar antara Rp5.000 - Rp5.500/liter dan solar antara Rp7.000 - Rp8.000/liter.
Anggota Komisi III bidang pembangunan dan infrastruktur DPRD Kalsel, Ibnu Sina dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), ketika dimintai komentar, menyatakan, hal itu nampaknya sudah menjadi kronis dan sesuatu yang cukup dilematis.
"Terkecuali pemerintah menghapus subsidi atas kedua jenis BBM tersebut (premium dan solar), maka kemungkinan antrean kendaraan bermotor di SPBU tidak akan terjadi lagi," ujar wakil rakyat dari PKS itu.
Namun di sisi lain dengan pencabutan subsidi bisa berdampak kenaikan tarif angkutan, yang pada gilirannya pula berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat, lanjut anggota Komisi III DPRD Kalsel yang juga membidangi pertambangan dan energi serta perhubungan itu.
Oleh sebab itu, pemerintah atau Pertamina selalu operator pemerintah dalam perminyakan hendaknya berupaya mencari solusi terbaik, demikian Ibnu Sina.her/B
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.