Ketua DPRD Kalimantan Selatan Nasib Alamsyah menyatakan, kemajuan pembangunan provinsi itu terkendala infrastruktur.


"Karena kalau keadaan infrastruktur di Kalsel masih seperti sekarang, mana mungkin investor ramai-ramai masuk untuk ikut bersama membangun dan memajukan daerah kita," katanya di Banjarmasin, Jumat.


Sebagai contoh masalah kelistrikan Kalsel yang masih sering "byar pet" (menyala-padam) serta keterbatasan/kekurangan daya, katanya usai pertemuan dengan tim asistensi/ahli Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI).


Begitu pula sarana dan prasarana perhubungan, seperti Bandar Udara (Bandara) Syamsudin Noor Banjarmasin, dengan kondisi fasilitas dan pelayanan yang belum maksimal serta baru mau menuju taraf internasional.


Selain itu, pelabuhan laut di Kalsel belum sebagaimana pelabuhan yang sudah maju, apalagi seperti Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, kemungkinan sulit untuk pengembangan karena berada dalam alur Sungai Barito, bukan kawasan pantai yang berhubungan langsung dengan laut.


Berkaitan dengan persoalan infrastruktur tersebut, politisi senior Partai Golkar itu, meminta pemerintah pusat menaruh perhatian lebih banyak lagi kepada Kalsel.


Permintaan tersebut, menurut mantan Komandan Korem Bone Sulawesi Selatan itu, cukup beralasan, karena Kalsel penyumbang devisa terbesar kedua di Indonesia dari hasil tambang batu bara, setelah Kalimantan Timur (Kaltim).


Karena itu, kata dia, wajar, kalau pemerintah pusat mengucurkan dana lebih besar untuk pembangunan daerah dan masyarakat Kalsel.


"Sebab tanpa perhatian lebih dari pemerintah pusat, sulit bagi Kalsel untuk memacu kemajuan pembangunan daerah dan masyarakatnya, kendati memiliki kekayaan sumber daya alam (SDA) yang banyak dan potensial," katanya.


"Karena tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, maka percuma memiliki kekayaan SDA yang berlimpah. Sebab SDA tersebut tak bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan daerah dan masyarakat Kalsel," demikian Nasib Alamsyah. /shn*C




Editor : Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026