New York (ANTARA) - Dolar AS sedikit menguat terhadap mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), di jalur untuk kenaikan bulanan pertama sejak September di tengah pandangan bahwa suku bunga akan tetap tinggi untuk beberapa waktu karena inflasi masih tinggi, sementara ketakutan resesi membuat investor gelisah.
Indeks dolar, yang mengukur mata uang terhadap sekeranjang enam mata uang, naik 0,22 persen pada 104,88 pada pukul 20.20 GMT, di jalur untuk kenaikan bulanan sebesar 2,7 persen.
Sementara itu, data pada Selasa (28/2/2023), menunjukkan tanda-tanda bahwa kenaikan suku bunga Fed mulai memiliki efek yang diinginkan untuk mendinginkan ekonomi yang panas, yang sedikit membebani dolar.
"Di tengah lautan berita yang mengecilkan hati, data kepercayaan konsumen AS yang dirilis pagi ini sangat dingin, menguntungkan untuk melawan inflasi, tetapi dengan biaya tersirat yang signifikan - penurunan belanja konsumen yang mewakili sekitar 70 persen dari PDB negara itu," kata José Torres, ekonom senior di Interactive Brokers.
Kepercayaan konsumen AS secara tak terduga turun pada Februari menjadi 102,9 dari pembacaan 106 pada Januari. Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan indeks akan menjadi 108,5.
Laporan lain menunjukkan bahwa harga rumah keluarga tunggal AS meningkat pada laju paling lambat pada Desember sejak musim panas 2020, dengan indeks harga rumah nasional S&P CoreLogic Case Shiller naik 5,8 persen tahun-ke-tahun.
Survei bisnis PMI (Indeks Manajer Pembelian) Chicago untuk Februari juga lebih lemah dari perkiraan.
Pasar menunggu data ketenagakerjaan Februari pada 10 Maret dan indeks harga konsumen pada 14 Maret, keduanya dapat mempengaruhi kebijakan suku bunga Fed.
"Cerita disinflasi berlanjut. Butuh sedikit jeda pada Januari, tapi itu bukan pembalikan. Kami pikir beberapa kekuatan dolar dilebih-lebihkan. Jadi kami dengan hati-hati memudarkan kekuatan dolar," kata Vassili Serebriakov, ahli strategi valas di UBS.
Dolar pada Selasa (28/2/2023) pagi mencapai level tertinggi lebih dari dua bulan terhadap yen Jepang, naik menjadi 136,93 yen, sebelum membalikkan kenaikannya setelah data AS. Dolar terakhir turun 0,06 persen terhadap yen di 136,15.
Kebijakan Jepang untuk mempertahankan imbal hasil berarti yen sensitif terhadap pergerakan di tempat lain. Gubernur Bank Sentral Jepang (BoJ) mendatang Kazuo Ueda mengatakan minggu ini terlalu dini untuk mengomentari bagaimana bank sentral dapat mengubah kebijakan.
Pada Selasa (28/2/2023), Deputi Gubernur baru Shinichi Uchida menepis kemungkinan perombakan segera kebijakan moneter ultra-longgar BoJ.
Yen juga jatuh ke level terlemahnya dalam dua bulan terhadap euro dan pound.
Sementara itu, euro turun 0,25 persen terhadap dolar menjadi 1,0583 dolar. Sebelumnya, mendapat beberapa dukungan dari data inflasi Prancis yang lebih tinggi dari perkiraan, yang mengirim imbal hasil zona euro jangka pendek ke level tertinggi setidaknya dalam satu dekade.
Sterling mengembalikan sebagian keuntungannya dari sesi sebelumnya terhadap dolar, turun 0,09 persen menjadi 1,2052 dolar.
Sterling melonjak 1,0 persen pada Senin (28/2/2023) setelah Inggris dan Uni Eropa mengumumkan kesepakatan baru untuk pengaturan perdagangan pasca-Brexit buat Irlandia Utara, yang dikenal sebagai Windsor Framework.
Itu mencerahkan prospek ekonomi Inggris pasca-Brexit, dengan Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak mengatakan itu akan membuka jalan bagi babak baru dalam hubungan London dengan blok tersebut.
Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Adi Lazuardi
Pewarta: Apep SuhendarEditor : Mahdani
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.