Seluruh bagian jembatan yang awalnya terbuat dari balokan kayu-kayu bersar terlihat sudah menjadi puing bekasnya dimakan api dan sebagian larut kedalam aliran sungai.
"Kami dapat laporan dari Dandim dan Kapolres bahwa ada indikasi jembatan memang sengaja dibakar. Kejadianya 30 Agustus dan runtuhnya 2 September beberapa hari yang lalu," kata Bupati Tanah Bumbu, Mardani H Maming, saat meninjau lokasi tersebut, Rabu.
Runtuhnya jembatan yang panjangnya mencapai 41 meter dan lebar sekitar 7 meter terbut membuat arus transportasi pada ruas jalan poros yang letaknya tepat di kawasan perbatasan Kabupaten Tanah Bumbu dengan Kabupaten Banjar menjadi terputus.
Ada sekitar tiga desa yang masyarakatnya nyaris terisoler karena tidak bisa mengakses perjalanan ke pusat kota akibat terputusnya ruas jalan tersebut.
Ketiga desa itu antara lain Desa Dadap, Batu Bulan, dan Desa Tamunih. Jumlah penduduknya mencapai sekitar 1000 KK yang dipastikan sulit melakukan akses perjalanan ke kota akibat runtuhnya jembatan itu.
Belum diketahui pelaku yang menyebabkan terbakarnya jembatan. Pemerintah dan aparat masih terus berusaha melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut.
Untuk sementara, pemerintah akan membangun jembatan Belly (jembatan gantung) untuk menggantikan jembatan yang runtuh. Jembatan belly dimaksudkan sebagai alternatif sementara untuk mempermudah akses masyarakat pada jalur tersebut.
"Kalau dibangun jembatan kayu saya kawatir dibakar lagi orang yang tidak bertanggung jawab. Karena kejadian ini sudah yang kedua kali. Sebelumnya juga pernah terbakar pada 2007," jelas bupati.(Yanto*C)
Editor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.