Kita berhasil ritel itu jual tas bukan plastik itu, bukan gratis, tetapi harga yang disubsidi
Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Hamdi menilai program pengurangan bahan-bahan berasal dari plastik di kota ini cukup berhasil.

Program pengurangan bahan plastik yang mulai dicanangkan tanggal 21 Pebruari 2015 itu sudah menunjukan hasil yang memuaskan, kata Hamdi kepada pers di Banjarmasin, Kamis.

Hal itu terlihat berdasarkan data-data yang valid di lokasi ritel, toko serba ada, dan mini market.

Untuk ritel berdasarkan data yang diteliti instansinya pengurangannya cukup bervariasi tetapi sudah ada lokasi ritel yang mampu mengurangi pemanfaatan kantong plastik hingga 80 persen, sementara ada pula yang masih rendah sekitar 40 persen.

Keberhasilan ini selain adanya penyuluhan tetapi adanya peran media massa baik media cetak maupun media elektronika yang selalu menyebarkan informasi tersebut ke masyarakat.

Kedepan semua ritel maupun mini market diwajibkan menyediakan kantong yang bukan dari plastik, seperti dari anyaman purun, tas terbuat dari kain, atau tas terbuat dari kain parasut yang pentingnya bukan plastik hingga limbahnya mudah terurai.

"Kita berhasil ritel itu jual tas bukan plastik itu, bukan gratis, tetapi harga yang disubsidi," tuturnya.

Ia mengharapkan adanya program pengurangan bahan plastik tersebut harus memanfaatkan peluang menghidupkan Usaha Kecil Menengah (UKM).

"Saya berharap pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan, dan Dinas Koperasi Banjarmasin membina industri kecil pembuatan wadah bahan potensi lokal pengganti kantongan plastik," katanya.

Menurut dia, banyak potensi lokal yang bisa dimanfaatkan untuk wadah pengganti kantongan plastik baik yang digunakan di super market atau di pasar tradisional.

Ia mencontohkan di Banjarmasin masih terdapat wadah yang disebut bakul terbuat dari purun, pandan, rotan, bambu, dan sejenisnya yang bisa digunakan pengganti kantongan plastik hingga jika harus menjadi sampah tentu ramah lingkungan.

Kemudian ada pula wadah yang disebut Jintingan, butah, yang juga bahannya berasal dari potensi tanaman yang mudah terurai jika nanti menjadi sampah, tuturnya.

Pewarta: Hasan Zainuddin
Editor : Ulul Maskuriah

COPYRIGHT © ANTARA 2026