"Nilai tukar rupiah bergerak menguat terhadap dolar AS seiring dengan fundamental ekonomi Indonesia yang cenderung mengalami perbaikan," ujar Analis PT Platon Niaga Berjangka, Lukman Leong di Jakarta, Kamis.
Ia mengatakan bahwa aliran dana asing yang mulai mengalir masuk ke dalam negeri baik di pasar saham maupun pada surat utang atau obligasi pemerintah menjadi salah satu faktor yang menopang mata uang domestik.
Ia menambahkan bahwa tren inflasi yang rendah pada tahun ini juga kembali memicu harapan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) berpotensi kembali dipangkas yang akhirnya dapat menekan suku bunga kredit perbankan. Dengan begitu, tingkat konsumsi di dalam negeri berpotensi meningkat yang akhirnya menopang perekonomian domestik.
Kendati demikian, Lukman Leong mengingatkan bahwa aliran dana asing itu berpotensi berbalik kembali ke negara asalnya jika laju perekonomian Indonesia tidak sesuai estimasi pasar, pemerintah diharapkan dapat menjalankan kebijakan-kebijakan yang telah dikeluarkan agar terasa dampaknya sehingga aktivitas ekonomi domestik bergerak meningkat.
Kepala riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menambahkan bahwa minat pelaku pasar terhadap aset mata uang berisiko, termasuk rupiah meningkat menyusul beberapa proyeksi pasar terhadap bank sentral Eropa (ECB) akan memutuskan untuk kembali melonggarkan kebijakan moneternya.
"ECB diperkirakan menurunkan suku bunga deposito dan menambah program 'quantitative easing'," ujarnya.
Sementara itu, dalam kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Kamis (10/3) mencatat nilai tukar rupiah bergerak melemah menjadi Rp13.149 dibandingkan hari sebelumnya (8/3) Rp13.128.
Pewarta: Zubi MahrofiEditor : Asmuni Kadri
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.