Ramadhan 1432 Hijriah disambut oleh warga Kalimantan Selatan dengan suka cita yang ditandai dengan semaraknya seluruh masjid, dan mushalla yang selalu dipenuhi oleh umat Islam untuk menjalankan ibadah terutama shalat Tarawih.


Begitu juga dengan pasar-pasar tradisional terjadi peningkatan kegiatan  jual beli sebagaimana yang terjadi Ramadhan tahun sebelumnya.

Hal itu terjadi karena di Banjarmasin datangnya bulan Ramadhan merupakan berkah bagi masyarakat untuk bisa mendapatkan rezeki tambahan dengan berjualan di pasar Ramadhan atau pasar wadai, yaitu pasar khas Kota Banjarmasin yang hanya ada pada saat Ramadhan.

Biasanya, semaraknya masyarakat menyambut Ramadhan tersebut, selalu membawa dampak pada kenaikan harga barang kebutuhan pokok yang melonjak tajam dibanding hari-hari biasanya.

Salah seorang warga Banjarmasin, Jasmiah, mengeluhkan kenaikan harga berbagai macam kebutuhan pokok dalam beberapa bulan terakhir.

"Dulu uang Rp50 ribu bisa untuk belanja tiga hari, tetapi kini satu hari saja kadang tidak cukup," katanya.

Apalagi pada Ramadhan ini, sebagian besar barang naik, sehingga seakan-akan kebutuhan pokok semakin sulit terjangkau.

Kenaikan harga kebutuhan pokok akan makin parah bila kondisi cuaca buruk sehingga mempengaruhi pelayaran yang berimbas kepada keterlambatan kedatangan pasokan kebutuhan pokok dari beberapa daerah.

Mengingat saat ini 70 persen kebutuhan pokok di Kalsel masih mendatangkan dari luar provinsi terutama dari Jawa, sehingga cuaca merupakan faktor yang cukup sensitif dalam mempengaruhi naik turunnya harga barang di Kalsel.

Berdasarkan pengalaman yang telah terjadi yang terjadi hampir tiap tahun tersebut, akhirnya pemerintah provinsi menempuh beberapa langkah untuk menahan laju kenaikan harga terutama menjelang Ramadhan dan lebaran.   

Salah satu langkah yang telah ditempuh Pemprov Kalsel adalah menjamin stok kebutuhan pokok selama Ramadhan dan Idul Fitri 1432 Hijriah tetap aman, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir dan melakukan aksi borong.

Sekretaris Daerah Pemprov Kalsel Mukhlis Gafuri mengatakan, kepastian tersedianya kebutuhan pokok tersebut berdasarkan hasil monitoring Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Kalimantan Selatan beberapa waktu lalu.

Menurut dia, TPID terus berupaya mengantisipasi kenaikan inflasi menjelang Ramadhan dan Idul Fitri antara lain dengan memonitor sejumlah pasar tradisional dan beberapa distributor pangan strategis di Banjarmasin.  

"Kegiatan ini dilaksanakan untuk memantau kecukupan pasokan dan kondisi harga kebutuhan pokok sebelum memasuki bulan puasa dan lebaran," katanya.

Selain memantau pasar, Pemerintah Provinsi Kalsel bersama  dinas dan badan terkait, serta pemerintah kabupaten/kota di Kalimantan Selatan juga melakukan pertemuan untuk memastikan kecukupan pasokan kebutuhan pokok.

"Terakhir pertemuan dilaksanakan di kantor Badan Ketahanan Pangan Provinsi Kalsel di Banjarbaru dan di Bank Indonesia," katanya. 

Berdasarkan hasil pantauan yang telah dilakukan, stok beberapa kebutuhan pokok menjelang bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri aman, artinya ketersediaan bahan pokok masih di atas perkiraan kebutuhan konsumsi.

Berdasarkan informasi Dinas Pertanian, produksi beras Kalsel tahun 2011 diperkirakan 1,13 juta ton, sedangkan kebutuhan sebanyak 504,57 ribu ton,  sehingga Kalsel mengalami surplus beras 621,84 ribu ton.

Harga beras lokal yang menjadi salah satu pemicu inflasi pada 2010, kata Mukhlis, sepanjang 2011 relatif stabil, dan berada pada kisaran Rp9.299-Rp12.461 per kilogram.

Begitu juga dengan pasokan daging sapi, daging ayam dan telur ayam ras cukup memadai. Stok sapi potong sampai akhir tahun diperkirakan surplus 14.823 ekor, begitu juga dengan produksi daging ayam ras surplus 54 ribu ekor per tiga hari.

"Kondisi cuaca yang cerah memastikan kelancaran pasokan telur ayam ras dari Jawa Timur," katanya.

Dengan stok barang yang masih memadai diharap para pengusaha tidak menaikkan harga terlalu tinggi.

Pemerintah Daerah memastikan ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi, sehingga tidak ada alasan bagi pedagang menaikkan harga di atas batas wajar.

Gubernur Kalsel, Rudy Ariffin, juga ikut mewanti-wanti agar masyarakat tidak memborong bahan kebutuhan pokok selama Ramadhan untuk menghindari kenaikan harga yang signifikan.

"Persediaan kebutuhan pokok di Kalsel mencukupi, saya harap masyarakat tidak panik dengan melakukan aksi borong," kata Gubernur di Banjarmasin, Selasa.

Menurut dia, aksi borong pembelian kebutuhan pokok sebagaimana yang dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya, sebagai salah satu pemicu terjadinya kenaikan harga berbagai macam barang kebutuhan di pasaran.

Sebab, tambah dia, sebagaimana hukum pasar, semakin tinggi permintaan, maka akan memicu kenaikan harga karena persediaan menjadi terbatas.

"Bila masyarakat menyikapi persiapan Ramadhan ini seperti hari biasanya, kemungkinan harga barang di pasaran tidak akan terjadi lonjakan yang berarti," katanya.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemprov Kalsel, Endah Suhartati, mengatakan, kini pihaknya lebih intensif melakukan pemantauan pasar termasuk persediaan dan stok barang.

Rata-rata, kata dia, seluruh kebutuhan pokok baik beras, tepung, gula, dan lainnya mencukupi hingga menjelang lebaran, bahkan dalam setiap harinya, berbagai kebutuhan pokok dari beberapa provinsi tetangga terus berdatangan.

Percepat distribusi raskin
Selain Pemprov Perum Bulog Divisi Regional Kalimantan Selatan akan mempercepat realisasi distribusi beras untuk masyarakat miskin (raskin) guna  mengantisipasi kenaikan harga beras selama puasa dan menjelang Lebaran 1432 hijriah.

Kepala Bidang Pelayanan Bulog Kalsel Saifudin di Banjarmasin Jumat mengatakan, percepatan realisasi tersebut antara lain yaitu jatah raskin yang seharusnya untuk September 2011 bisa diambil pada Agustus ini.

"Silahkan bagi daerah penerima raskin untuk segera merealisasikan pembagian beras alokasi September pada Agustus ini," katanya.

Hal tersebut dilakukan, untuk mendukung upaya Pemprov Kalsel mengantisipasi terjadinya lonjakan berbagai macam kebutuhan pokok selama Ramadan dan menjelang hari raya sebagaimana terjadi di beberapa daerah lainnya.

Menurut dia, persediaan beras di Kalsel masih mencukupi hingga lima bulan ke depan sehingga diharapkan masyarakat tidak khawatir bakal terjadi kelangkaan beras, terutama menjelang lebaran.

Kepala Dinas Pertanian Kalsel Sriyono mengatakan pihaknya juga telah mengupayakan berbagai langkah untuk meningkatkan produksi padi Kalsel menjadi 2,1 juta ton pada 2011 atau naik dibanding 2010 yang hanya sekitar 1,8 juta ton gabah kering giling.

"Pada 2009 produksi padi Kalsel  mencapai 1,9 juta ton namun pada 2010 turun karena hujan yang mengguyur daerah ini sepanjang tahun sebingga membuat sebagian besar lahan rawa di Kalsel tergenang," katanya.

Turunnya produksi padi tersebut membuat harga beras lokal melambung dari sebelumnya hanya Rp7 ribu per kilogram menjadi Rp12 ribu -Rp14 ribu per kilogram.

Sriyono yakin, dengan mekanisasi dan fasilitasi pertanian yang baik, peningkatan produktivitas padi bisa dilakukan terutama di beberapa daerah seperti Barito Kuala,Tanah Laut dan beberapa daerah lainnya.

Dengan mulai produktifnya kembali lahan - lahan rawa yang sepanjang 2010 menjadi lahan tidur, Sriyono optimis Kalsel mampu meningkatkan produksi padi dari 1,8 juta ton menjadi 2,1 juta ton sebagaimana target yang ditetapkan nasional.

Apalagi, kata dia, Dinas Pertanian Kalsel juga telah melakukan langkah antisipasi,antara lain dengan memanfaatkan benih padi baru jenis impara yang mampu bertahan pada genangan dan kekeringan.

Menurut Sriyono, kalau hujan masih berlangsung hingga satu tahun ke depan petani akan minta menanam padi impara yang tahan genangan.Dengan demikian peristiwa yang terjadi  pada 2010, di mana petani tidak bisa menanam, tidak terulang.

"Saya berharap dengan adanya impara ini, beberapa petani di kabupaten yang lahan pertaniannya di lahan lebak atau gambut bisa tetap menanam padi," katanya.

Beberapa daerah ,jelas dia, yang telah melakukan uji coba penanaman padi Impara dan ternyata cukup berhasil dengan produksi mencapai 8,6 ton/hektare atau jauh lebih baik dibanding padi ciherang dengan produksi 6 ton per hektare.

Apalagi, kata Sriyono,untuk mendukung meningkatnya produksi padi tersebut telah diberikan bantuan langsung benih unggul (BLBU) dari pemerintah pusat untuk lahan seluas 120 ribu hektare.

Pasar Murah
Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Pemprov Kalsel Endah Suhartati mengatakan, mereka segera menggelar pasar murah sebagai upaya menahan laju harga kebutuhan pokok yang cenderung meningkat selama bulan Ramadhan dan menjelang Lebaran.

Menurut dia, beberapa harga barang kebutuhan pokok seperti gula pasir, tepung, minyak, telur dan lainnya bakal dijual di pasar murah dengan harga distributor sehingga harganya bisa ditekan.

Diharapkan, upaya tersebut akan mampu meringankan beban masyarakat dalam menekan biaya belanja rumah tangga selama Ramadhan.

Selain itu, dengan adanya pasar murah bisa menahan keinginan pedagang di pasar-pasar untuk mencari kesempatan menaikkan harga yang tidak sesuai dengan kewajaran.

Menurut Endah, dibanding beberapa daerah lain di Indonesia harga kebutuhan pokok selain  sayur-mayur di Banjarmasin relatif stabil bahkan beberapa komoditas seperti beras harganya cenderung turun.

Hal tersebut, kata dia, karena stok barang didistributor maupun di pasar cukup banyak bahkan khusus beras bisa dikatakan cukup melimpah sehingga tidak ada masalah berarti.

Begitu juga dengan harga daging sapi bertahan pada harga Rp69.000-Rp70.000 perkilogram sebagaimana sebelum Ramadhan.

Mengantisipasi kelangkaan kebutuhan pokok Pemprov Kalsel juga melakukan koordinasi dengan Administrator Pelabuhan (Adpel) Pelabuhan Trisakti Banjarmasin sebagai pintu masuknya barang-barang dari luar daerah.

Kepala Seksi Kepelabuhanan Adpel Trisakti Banjarmasin, Patria Jaya, mengatakan bakal mengutamakan masuknya kapal pengangkut kebutuhan pokok.

Menurut dia, bila terjadi persoalan terkait transportasi laut, maka pihaknya akan mengutamakan masuknya kapal kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak untuk menghindari terjadinya kelangkaan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

Berbagai upaya yang dilakukan Pemerintah provinsi dan daerah tersebut memicu pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Selatan pada triwulan II-2011 diperkirakan bisa tumbuh 6,15 persen, atau naik dibanding tri wulan I tahun sama sebesar 5,95 persen.

Peneliti Senior Madya Bank Indonesia (BI) Banjarmasin Taufik Saleh mengatakan, peningkatan pertumbuhan ekonomi diperkirakan juga bakal terjadi pada triwulan III yang diperkirakan tumbuh pada kisaran 6,5-7,0.

Peningkatan tersebut antara lain disebabkan masih tingginya daya dorong konsumsi masyarakat serta peningkatan aktivitas ekspor seiring terjaganya harga CPO, karet, dan batubara pada level yang cukup tinggi.

"Diperkirakan pada 2011 terjadi musim kemarau, sehingga mendorong peningkatan produksi batu bara sebagaimana yang telah direncanakan," katanya. 

Hal tersebut didukung oleh penguatan rupiah yang diiringi dengan penguatan harga komoditas di pasar dunia dalam eskalasi yang lebih besar, sehingga menopang terjaganya pendapatan bersih para eksportir.

Bukan hanya Kalsel secara umum pertumbuhan ekonomi di Kalimantan pada triwulan II-2011 diperkirakan 4,13 persen, lebih tinggi dibandingkan triwulan I-2011 yang tercatat sebesar 3,09 persen./B




Editor : Abdul Hakim Muhiddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026