Batulicin (ANTARA) - Tim Percepatan Penurunan Stunting (TP2S) Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, membahas analis situasi program untuk mecegah dan menekan kasus stunting atau gagal tumbuh akibat kekurangan gizi di kota setempat.

"Upaya pencegahan stunting menjadi perhatian serius pemerintah daerah, salah satunya dengan membentuk TP2S agar penanganannya menjadi lebih fokus dan maksimal," kata Ketua TP2STanah Bumbu Hj Wahyu Windarti Zairullah di Batulicin Kamis.

Ia mengatakan, target tinggi yang ditetapkan oleh TP2S Tanah Bumbu harus bergegas melaksanakan berbagai kegiatan agar mampu mencapai target tersebut.

Saat ini angka prevalensi di Tanah Bumbu berada pada titik 18,7 persen, sehingga masih intervensi yang harus dilakukan pemerintah daerah, terutama untuk 1.000 hari pertama kelahiran.

Karena itu perlu ada analisis situasi program yang dilakukan guna mengidentifikasi beberapa hal seperti sebaran kasus yang terjadi, kesediaan program penanganannya, serta sasaran prioritas agar penanganan pencegahan stunting bisa berjalan dengan optimal

Penurunan angka prevalensi stunting di Tanah Bumbu pada tahun 2023 ditargetkan pada angka 13 persen dan diharapkan menjadi 14 persen pada tahun 2024.

Sehingga sangat diperlukan analisis situasi program untuk memahami permasalahan yang dihadapi di lapangan, sasaran kerja yang tepat, hingga perbaikan manajemen layanan untuk 1.000 hari pertama kelahiran serta meningkatkan integrasi terhadap intervensi kelembagaan sampai ke level rumah tangga.

"Guna mencapai target itu, tentu peran pemerintah daerah menjadi sangat penting dan krusial melalui SKPD dan instansi lintas sektoral yang terlibat melalui berbagai program dan kegiatan yang dimiliki serta pendanaan yang tersedia dalam mendukung aksi percepatan," pungkasnya.

Pewarta: Sujud Mariono
Editor : Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026