"Uji laboratorium dilakukan oleh PDAM Bandarmasih di Banjarmasin atas permintaan pihak kami, karena di sini tidak memiliki fasilitas untuk itu," ujarnya di Barabai, ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Sabtu.
Uji laboratorium yang dilakukan mengacu pada standar air bersih layak konsumsi dari Menteri Kesehatan RI melalui Keputusan Menteri (Kepmen) Nomor 907/MENKES/SK/VII/2002.
Dalam Kepmen tersebut telah diatur dan ditentukan standar serta batas syarat kandungan bakteri, unsur kimia dan kondisi fisik air sungai yang layak dikonsumsi.
Ia mengatakan, uji laboratorium dilakukan dengan menggunakan tiga pendekatan yaitu metoda Spectrophotometry, Titrimetric dan Electrometric.
"Uji laboratorium harus dilakukan agar kami dapat mengontrol kualitas dan kelayakan air baku, sehingga ketika dikonsumsi tidak berdampak pada masyarakat," katanya.
Berdasarkan hasil uji laboratorium tersebut diketahui bahwa air Sungai Barabai tidak mengandung unsur bakteri seperti E colli dan bakteri coliform.
Untuk kondisi fisik air, diketahui air Sungai Barabai yang sebelumnya berwarna dengan kisaran 170 Pt-Co, setelah dilakukan pengolahan hasilnya menjadi 0 Pt-Co.
Begitu pula dengan tingkat kekeruhan yang sebelumnya berada pada tingkat 22.0 NTU, setelah diolah turun menjadi hanya 0.34 NTU.
"Sedang untuk conductivity dan temperatur, air Sungai Barabai memang tidak melebihi ketentuan, sehingga ketika diolah juga tidak menimbulkan pengaruh apa-apa," tambahnya.
Dari hasil uji laboratorium juga dapat diketahui kandungan unsur kimia seperti kromium, nitrat, nitrit, ammonia, aluminium, khlorida, copper, besi, ph, sulfat, kalsium, magnesium, karbon dioksida bebas, sisa klor, posphat dan alkalinity.
Dari semua unsur kimia yang dianalisa, tercatat hanya dua unsur yang kandungannya meningkat setelah dilakukan pengolahan, yaitu kalsium dan magnesium.
Kandungan kalsium sebelum diolah sebanyak 40.04 mg/L, naik menjadi 48.05 mg/L. Untuk magnesium dari 10.70 mg/L sebelum diolah, naik menjadi 11.67 mg/L setelah diolah.
Uji laboratorium tersebut dilakukan dengan mengambil dua sampel sebagai bahan pengujian, yaitu air baku dan air distribusi, demikian Khudriadi menjelaskan.
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.