"Karena hujan yang terjadi beberapa hari ini, arus sungai mulai deras dari hulu ke hilir, sampah sungai pun ikut terbawa," ujarnya.Banjarmasin (Antaranews Kalsel) - Sungai Martapura di Kota Banjarmasin mulai mendapat "serbuan" sampah ilung atau eceng gondok akibat terbawa derasnya arus air sungai dari hulu ke hilir.
Keberadaan sampah eceng gondok yang terbawa arus sungai dengan jumlah yang cukup besar mulai terlihat di Sungai Martapura daerah Banua Anyar atau jembatan Banua Anyar di Jalan Pangeran Hidayatullah, demikian keterangan warga Banjarmasin Utara, Selasa.
Abdul Khair, warga yang tinggal di pinggiran sungai Martapura daerah Banua Anyar mengatakan, keberadaan sampah eceng gondok ini mulai tampak banyak sekitar dua hari lalu.
"Karena hujan yang terjadi beberapa hari ini, arus sungai mulai deras dari hulu ke hilir, sampah sungai pun ikut terbawa," ujarnya.
Menurut dia, volume sampah eceng gondok yang tampak masih belum seberapa, tapi kemungkinan akan bisa lebih besar datangnya dalam seminggu atau dua minggu lagi.
"Kalau kebiasaan seperti yang lalu-lalu, sampah yang datang akan terus bertambah setiap harinya, bahkan nanti bercampur ranting dan batang kayu, mulanya memang hanya seperti ini (eceng gondok)," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sumberdaya Air dan Drainase Kota Banjarmasin Ir Muryanta membenarkan mulai bertambahnya volume sampah yang terbawa masuk ke sungai Martapura daerah ibu kota provinsi ini.
"Karena daerah kita berada di bagian hilir sungai, arus sungai mulai deras akibat hujan di bagian hulu, maka imbasnya daerah sungai kita akan banyak mendapat kiriman sampah," tuturnya.
Karena itu, ucap Muryanta, pihaknya sudah mulai menyiapkan kapal pembersih sungai atau biasa disebutnya kapal sapu-sapu untuk menghadapi kedatangan sampah yang terbawa arus akibat musim hujan ini.
Demikian pula, kata Muryanta, pihaknya juga sudah mulai mengantisifasi dengan memasang jaring sampah di sungai Martapura di daerah Banua Anyar yang merupakan batas wilayah perbatasan Banjarmasin di bagian hulu.
Sebab kalau tidak diupayakan demikian, beber Muryanta, sampah akan menutupi aliran sungai atau permukaan sungai yang terhampar di bawah jembatan, biasa itu di bawah Jembatan Pasar Lama dan Jembatan Pangeran Antasari belakang pasar Sudimampir.
"Kita usahakan tidak terjadi lagi seperti tahun-tahun lalu, di mana ribuan ton sampah tersangkut di bawah jembatan Pasar Lama dan Pangeran Antasari, hingga membuat macet dan lumpuh jalur transportasi sungai," ungkapnya.
Menurut dia, pemerintah daerah berupaya dengan berbagai cara untuk menghindarkan kejadian tersebut, selain melakukan antisipasi dengan menurunkan kapal sapu-sapu dan tenaga pembersih manual, diminta juga daerah di bagian hulu sungai agar menjaga kebersihan sungainya.
"Sebab, daerah kita ini di bagian paling hilir sungai Martapura, jadi terus mendapatkan kiriman sampah dari daerah lain hingga tertumpuk besar, ini akibat perusakan hutan di bagian hulu," tuturnya.
Menurut Muryanta, satu-satunya cara untuk mengantisipasi kejadian semacam ini agar tidak terus berlanjut setiap tahunnya, semua pemerintah daerah yang masuk daerah aliran sungai Martapura harus berkomitmen menjaga kelestarian sungai dan hutan, tidak ada lagi penggundulan hutan dan buang sampah sembarangan ke sungai.
"Sudah kita koordinasikan ini berkali-kali, moga tahun ini ada hasilnya, dan bencana sampah sungai di daerah bisa berkurang atau hilang sama sekali," katanya
Pewarta: SukarliEditor : Hasan Zainuddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.