Bank Indonesia Banjarmasin Kalimantan Selatan mengimbau agar masyarakat mewaspadai peredaran uang palsu yang diselipkan pada penjualan uang pecahan kecil menjelang lebaran Idul Fitri 1431 hijriah.
         
Pemimpin Bank Indonesia Banjarmasin Khairil Anwar di Banjarmasin, Senin mengatakan, ada modus operandi baru peredaran uang palsu melalui penjualan uang pecahan kecil oleh masyarakat yang saat ini marak di berbagai tempat.
         
"Biasanya uang palsu tersebut diselipkan ditengah bundelan uang pecahan yang dijual, dan biasanya masyarakat kurang cermat dengan tidak menghitung atau meneliti ulang satu persatu uang pecahan tersebut," katanya.
         
Apalagi, kata dia, bila penjualan uang pecahan tersebut dibungkus rapi dengan plastik, biasanya masyarakat enggan untuk membuka dan menghitung kembali.
         
Dengan demikian, kata dia, diharapkan masyarakat lebih teliti dalam melakukan penukaran uang peahan, dan diimbau langsung ke Bank Indonesia atau ke seluruh bank umum yang tersebar di Kalsel.
         
"Kita siap melayani berapapun nilai penukaran uang kecil yang diinginkan masyarkat, seluruh bank umum kini telah melayani penukaran tersebut, sehingga masyarakat tidak perlu cemas," kata dia.
         
Apalagi, kata dia, kini penukaran uang kecil di BI juga tidak terlalu antre seperti tahun-tahun sebelumnya, karena seluruh bank umum di Kalsel telah melayani penukaran uang kecil tersebut, sehingga tidak terpusat di BI.
         
Menurut Khairil, menjelang lebaran cenderung terjadi peningkatan jumlah peredaran uang palsu yaitu pada semester pertama ditemukan sekitar Rp4 juta atau 94 lembar uang palsu dan semester dua menjadi Rp22 juta lebih atau sekitar 500 lembar uang palsu.
         
Sehingga total uang palsu selama 2010 hingga Agustus menjadi 667 lembar. Namun turun dibanding 2009 sebanyak 1.530 lembar.
         
Menurut Khairil, kendati masih terdapat peredaran uang palsu di Kalsel, namun masih lebih sedikit dibanding rata-rata nasional.
         
"Kalau nasional rata-rata masih terdapat 7-8 lembar uang palsu dalam satu jutanya, sedangkan di Kalsel ditemui 3-5 lembar uang palsu per satu juta lembarnya," katanya.
         
Sejak pertengahan Ramadhan 1431 hijriah penukaran uang di bank umum maupun di BI terus mengalami peningkatan dan antrean.
         
Di BI antrean dalam tiap harinya tidak kurang dari seratus orang, begitu juga dengan di bank-bank umum lainnya.
         
Antrean tersebut, membuat sebagian masyarakat enggan untuk langsung melakukan penukaran ke bank dan memilih membeli atau menukarkan uang receh kepada masayrakat.
         
"Penjualan" uang receh tersebut juga terlihat marak di halaman kantor BI Banjarmasin. Sejak pagi tampak beberapa orang menjajakan uang pecahan kecil mulai Rp2 ribu hingga Rp10 ribu.
         
Menanggapi hal itu, Khairil mengatakan tidak bisa bertindak apa-apa, karena jual beli merupakan hak masyarakat, namun dia kembali mengingatkan agar masyarakat lebih waspada.


Editor : Abdul Hakim Muhiddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026