Berdasarkan hasil pemantauan satelit pendeteksi panas bumi NOAA yang diterima Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, ditemukan tujuh titik panas atau Hotspot di wilayah tersebut.


Kepala Seksi Pemulaan dan Perlindungan Hutan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan setempat, Sukeran Effendi di Barabai Ibu Kota Hulu Sungai Tengah, Rabu mengatakan, tujuh titik panas itu tersebar di tiga kecamatan.


"Dua titik ditemukan di Kecamatan Barabai, empat titik di Pandawan dan satu titik di Labuan Amas Utara," ujarnya.


Ketujuh titik panas itu tidak berada pada lokasi hutan tapi di Areal Penggunaan Lain (APL) yang merupakan lahan gambut dan kawasan lebak kering.


"Berdasarkan pencitraan satelit NOAA tersebut, diketahui hingga saat ini kawasan hutan di HST aman dari kemungkinan terjadinya bahaya kebakaran," katanya.


Satelit pendeteksi panas bumi, NOAA, memiliki sifat menangkap  panas pada permukaan bumi, sehingga meski bukan disebabkan oleh kebakaran tetap terpantau.


Saat siang hari, NOAA akan mendeteksi panas pada ambang temperatur 42 celcius, sedang pada malam hari satelit itu mampu mendeteksi panas pada ambang temperatur 37 celcius.


Setiap bulannya  Dishutnakan setempat menerima laporan hasil pencitraan satelit NOAA dari Departemen Kehutanan dan Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan.


Ia menambahkan, berdasarkan hasil pencitraan itu pihaknya segera menindaklanjuti dengan melakukan pemeriksaan secara langsung ke lokasi.


"Meskipun dari hasil pencitraan itu jelas disebutkan bahwa titik panas berada di luar kawasan hutan, tetap kita lakukan pemeriksaan sehingga bila memang yang terdeteksi itu kebakaran dalam skala besar dapat segera diatasi," katanya.


Saat ini, petugas Kehutanan dari Dishutbun setempat sedang dalam keadaan siaga terhadap kemungkinan terjadinya bahaya kebakaran hutan, mengingat cuaca panas yang terus terjadi.


Namun hingga kini belum ada laporan baik dari petugas di lapangan maupun oleh masyarakat tentang adanya bahaya kebakaran di kawasan hutan, kata Sukeran Effendi.(adi/B)




Editor : Ulul Maskuriah

COPYRIGHT © ANTARA 2026