Pemerintah Daerah Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, pada 2011 memprogramkan perluasan dan rehabilitasi perkebunan karet pada lahan seluas 600 hektar.
Menurut Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) setempat, Sufian Noor, di Rantau, ibu kota Tapin, Senin, program perluasan dan rehabilitasi itu akan dilaksanakan di dua kecamatan.
Sasaran program itu akan dilaksanakan di Kecamatan Salam Babaris dan Hatungun yang memiliki potensi pengembangan perkebunan cukup bagus," ujarnya.
Di dua kecamatan tersebut banyak terdapat lahan-lahan tidur, sehingga sangat potensial sebagai pengembangan perkebunan karet.
Ia mengatakan, selain untuk perluasan perkebunan karet, program tersebut juga dimaksudkan untuk peremajaan pohon karet yang sudah tidak produktif lagi.
"Program ini mendapat dukungan sumber dana dari provinsi dan APBN yang pada pelaksanaannya akan melibatkan para kelompok tani setempat," katanya.(eed/B)
Pada pelaksanaannya, kelompok tani yang berminat harus membuat dan mengajukan surat permohonan usulan kepada Dishutbun setempat.
Dalam surat permohonan itu harus dijelaskan dan dipastikan bahwa lahan yang diajukan sebagai areal perkebunan karet tidak sedang dalam masalah atau sengketa.
Ia menambahkan, telah banyak surat permohonan yang masuk, namun belum semuanya dapat disetujui karena sebelumnya harus melalui proses survey ke lapangan.
"Survey penting dilakukan agar dapat diketahui secara pasti tentang kondisi lahan tersebut, baik dalam hal lokasi maupun statusnya agar tidak timbul masalah dikemudian hari," tambahnya.
Setelah diperoleh kepastian bahwa calon lahan yang diajukan kelompok tani tidak bermasalah, baru dapat dilakukan persetujuan untuk pelaksanaan program tersebut.
Program itu sendiri dilaksanakan dengan tujuan untuk menunjang dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani karet setempat.
Selain itu, perkebunan karet akan berfungsi ganda yaitu juga sebagai resapan air, penghijauan pada lahan tandus dan pencegahan terhadap banjir.
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.