Kliring atau nilai rata-rata harian transaksi non-tunai pada triwulan II-2010 turun 1,9 persen dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

Humas Bank Indonesia Banjarmasin, Andi Widianto, di Banjarmasin, Selasa, mengatakan, para triwulan pertama transaksi kliring mencapai Rp55,4 miliar per hari dan pada triwulan II menjadi Rp54,3 miliar per hari.

Demikian halnya dengan volume transaksi, tambah Andi, juga menurun dari 1.338 lembar per hari pada triwulan pertama menjadi 1.275 lembar per hari pada triwulan laporan.

"Meskipun menurun, namun angka tersebut masih dapat dikatakan stabil karena berada dalam range yang sesuai dengan siklus ekonominya," katanya.

Apabila dibandingkan dengan kondisi pada triwulan yang sama di tahun 2009, kata dia, pertumbuhan dari rata-rata nominal kliring di wilayah Kalimantan Selatan mencapai 12,1 persen dari Rp48,5 miliar per hari menjadi Rp54,3 miliar per hari.

Kondisi ini, kata Andi, diperkirakan terjadi berkat aktivitas ekonomi yang telah stabil setelah sempat terkena imbas krisis keuangan global pada periode sebelumnya.

Kliring sebagai suatu istilah dalam dunia perbankan dan keuangan menunjukkan suatu aktivitas yang berjalan sejak saat terjadinya kesepakatan untuk suatu transaksi hingga selesainya pelaksanaan kesepakatan tersebut.

Kliring sangat dibutuhkan sebab kecepatan dalam dunia perdagangan jauh lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan guna melengkapi pelaksanaan aset transaksi.

Sementara itu, untuk menjamin kelangsungan proses kliring yang kini banyak terkendala berbagai hal termasuk listrik, BI Banjarmasin menyelenggarakan simulasi "Business Continuity Plan" (BCP) Kliring manual.

Menurut Andi,  kondisi darurat dan ketidakpastian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Sebagai contoh insiden mati listrik di bandara udara Soekarno Hatta yang terjadi baru-baru yang mengakibatkan potensi kerugian yang tidak kecil.

Hal itu, kata dia, menuntut setiap institusi untuk selalu siap siaga dalam menghadapi segala macam kondisi darurat yang bisa saja datang sewaktu-waktu tanpa diperkirakan sebelumnya.

Dengan demikian, kata dia, BI Banjarmasin menyelenggarakan simulasi Business Continuity Plan (BCP) Kliring manual untuk menjamin kelangsungan proses kliring apabila terjadi kondisi darurat tersebut.

Dalam acara yang dihadiri oleh seluruh bank peserta kliring dengan jumlah 56 petugas kliring, dijelaskan tentang apa dan bagaimana proses kliring dilakukan apabila terjadi kondisi darurat di Banjarmasin.

BCP ini kata dia, dilakukan untuk pertama kalinya di BI Banjarmasin untuk menyusun neraca kliring dan bilyet saldo kliring (BSK) secara manual dengan jumlah warkat 70 lembar, dengan nominal Rp2,7 miliar.

Proses kliring yang biasanya dilakukan secara otomatis dengan program komputer tersebut kali ini dilakukan secara manual tanpa bantuan alat hitung apapun dengan melakukan cross check satu per satu antara bank yang menyerahkan dengan bank penerima.


Editor : Abdul Hakim Muhiddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026