"Lebih 50 persen atap gedung sekolah dasar (SD) yang dipinjam untuk siswa sekolah menengah pertama (SMP) bocor, sementara dindingnya sebagian besar lapuk," kata Konsultan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) untuk Pulau Sembilan, Riadi, Selasa.
Ia mengatakan saat ini jumlah siswa SMP swasta Teluk Sungai yang berasal dari lulusan SD Negeri Teluk Sungai, Maradapan dan Labuan Barat, sekitar 72 orang.
Mereka bersekolah di dalam gedung yang kondisinya memprihatinkan. Jika hujan turun mereka bubar karena lebih dari 50 persen atapnya bocor.
"Para siswa tersebut tidak dapat konsentrasi selama proses belajar mengajar," katanya.
Masyarakat, wali murid, serta siswa SMP dan SD yang masih duduk di bangku kelas VI mengharapkan pemerintah daerah segera membangun gedung SMP yang baru.
"Mereka juga mengharapkan SMP Teluk Sungai dapat berdiri sendiri, bukan sebagai sekolah cabang dari SMPN Marabatuan, Pulau Sembilan," katanya.
Kalau tidak berdiri sendiri, kata Riadi, setiap siswa kelas III harus ikut ujian akhir nasional di SMPN Marabatuan yang waktu tempuhnya lima sampai enam jam perjalanan menggunakan kapal.
"Para orang tua khawatir anaknya dalam bahaya, terutama saat gelombang tinggi, sementara kalau harus kos, biayanya cukup tinggi," ujarnya.
Kabid Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kotabaru Rahmad mengatakan APBD Kotabaru 2010 telah mengalokasikan dana untuk pembangunan gedung SMP di Labuan Barat.
"Insya Allah akhir Agustus dana tersebut dapat direalisasikan," ujarnya.
Ia mengakui masih banyak sekolah yang perlu direhabilitasi terutama sekolah yang ada dikepulauan, seperti Pulau Sembilan.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kotabaru H Fathusysyar'i MSi menambahkan pemerintah daerah telah merencanakan pembangunan gedung SMP Labuan Barat satu paket.
"Mudah-mudahan tahun depan pemerintah dapat kembali mengalokasikan dana tambahannya, sehingga sekolah tersebut dapat menampung lebih banyak lagi lulusan SD dari desa di sekitarnya," katanya.
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.