"Kendati Kalsel tak kekurangan beras, namun Bulog setempat siap mengantisipasi kemungkinan kelangkaan jenis bahan makanan pokok bagi penduduk provinsi ini yang mencapai empat juta jiwa," ujarnya di Banjarmasin, Selasa.

Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Ketua komisi II bidang ekonomi dan keuangan DPRD Kalimantan Selatan Muharram mengapresiasi Badan Urusan Logistik setempat yang siap mengantisipasi kelangkaan beras di provinsi tersebut.


 "Kendati Kalsel tak kekurangan beras, namun Bulog setempat siap mengantisipasi kemungkinan kelangkaan jenis bahan makanan pokok bagi penduduk provinsi ini yang mencapai empat juta jiwa," ujarnya di Banjarmasin, Selasa.

 Menurut informasi dari Bulog Kalsel, ungkap Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kalsel tersebut, cadangan beras untuk provinsi yang terdiri atas 13 kabupaten/kota untuk keperluan sampai empat bulan ke depan.

 "Berdasarkan info dari Bulog tersebut, berarti masyarakat Kalsel tak perlu khawatir ketiadaan beras hingga lebaran Idul Adha atau Hari Raya Haji/Qurban mendatang," lanjut wakil rakyat yang menyandang gelar dokterandus (Drs) dan juga seorang petani itu.

 Namun, tutur Ketua Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) DPRD Kalsel itu, stok atau cadangan beras pada Bulog tersebut kualitas medium, bukan premium yang harganya relatif mahal.

 Sedangkan selera urang Banjar Kalsel pada umumnya mengonsumsi nasi dari beras kualitas premium. "Karena itu pula Bulog tak menjamin perkembangan harga beras premium cendrung meningkat," katanya. 

 Mengenai bahan atau kebutuhan pokok lain, dia menyatakan, anggota Komisi II DPRD Kalsel terus melakukan pemantauan, baik terhadap perkembangan harga maupun persediaan (stok).

 Bila terjadi gejolak harga yang peningkatannya mencapai 15 persen atau lebih, Komisi II DPRD Kalsel segera memanggil instansasi terkait, untuk segera melakukan penanganan supaya jangan sampai meresahkan masyarakat.

 "Begitu pula kalau terjadi kelangkaan persediaan di pasaran umum, maka kita minta instansi terkait sesegeranya pula melakukan operasi pasar (OP) bekerja sama dengan penyedia/penyalur kebutuhan pokok tersebut," tuturnya.

 Sebagai contoh kebutuhan gula pasir/gula putih pada bulan puasa Ramadhan dan menjelang lebaran Idul Fitri 1436 Hijriah, pihak instansi terkait siap melakukan OP kalau terjadi lonjakan harga atau di atas batas toleransi, yaitu berkisar antara 10 persen - 15 persen.

 "Tapi dalam menghadapi puasa Ramadhan 1436 H perkembangan harga bahan pokok masih dalam batas toleransi, dan persedian tak masalah. Kita menghadapi Idul Fitri nanti tak ada lonjakan harga, dan persediaan cukup,"� demikian Muharram. 

Pewarta: Syamsudin Hasan
: Hasan Zainuddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026