Kepala Bidang Organsasi, Hukum dan Verifikasi Gabungan Pengusaha Ekspedisi Indonesia (Gapeksi) Kalimantan Selatan, P Batubara menyatakan, anggotanya akan melakukan demo besar-besaran untuk memprotes kenaikan biaya terminal.
Menurut Batubara di Banjarmasin, Selasa (14/6), kenaikan biaya terminal (terminal handling charge-THC), bukan cuma memberatkan, tapi juga bisa mematikan kehidupan para buruh ekspedisi muatan kapal laut (EMKL) di "kota seribu sungai" ini.
Sementara Sekretaris Gapeksi, Makmur Sinambela mengungkapkan, dengan adanya surat edaran dari beberapa perusahaan pelayaran yang akan memberlakukan THC, maka THC harus dibayar tunai saat pengambilan DO.
Sedangkan nilai pembayaran tersebut cukup tinggi yaitu sekitar Rp1,8 juta/box kontiner (petikemas) yang sebelumnya tanpa sistem THC pembiayaan cuma lebih kurang Rp300 ribu.
"Memang nilai tersebut mungkin tidak terlalu besar bagi perusahaan besar pelayaran. Namun bagi EMKL, nilai itu terlalu tinggi," demikian M Sinambela.
Sebelumnya sekitar 300 pekerja EMKL anggota Gapeksi Kalsel, turun ke jalan dekat pintu masuk Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, mendatangi kantor PT Pelindo III Banjarmasin dan Administrator Pelabuhan (Adpel) Banjarmasin.
Aksi pekerja EMKL, Senin (13/6) lalu itu, menuntut agar pelayaran tak memberlakukan sistem THC, karena selain akan memberatkan beban tempatnya bekerja, juga bisa kehilangan pekerjaan mereka.
Mengenai aksi tersebut, pihak Pelindo III Banjarmasin menganggap hal itu salah sasaran, karena pihaknya tak mengurusi biaya pengangkutan/pengiriman barang.
Namun demikian Pelindo III Banjarmasin tetap memberi apresiasi dan akan turut mengupayakan mencari solusi terbaik atas permasalahan tersebut./gun*C
Editor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.