Agar efektif dalam menurunkan insiden kasus dan risiko infeksi COVID-19, maka mobilitas penduduk harus ditekan minimal turun separuh dari mobilitas sebelum PPKMBanjarmasin (ANTARA) - Anggota Tim Pakar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) untuk Percepatan Penanganan COVID-19 Hidayatullah Muttaqin SE, MSI, Pg.D mengatakan
pemerintah daerah harus memiliki keseriusan dalam menurunkan mobilitas penduduk secara signifikan selama PPKM.
"Agar efektif dalam menurunkan insiden kasus dan risiko infeksi COVID-19, maka mobilitas penduduk harus ditekan minimal turun separuh dari mobilitas sebelum PPKM," terang dia di Banjarmasin, Selasa.
Taqin mencontohkan Kalimantan Selatan yang masih tingginya insiden kasus di Kota Banjarmasin dan Kota Banjarbaru serta meluasnya daerah yang melaksanakan PPKM level IV, yakni Kabupaten Barito Kuala, Tanah Laut, Tanah Bumbu dan Kotabaru, menunjukkan laju penyebaran COVID-19 di tengah masyarakat belum terbendung.
Hal ini disebabkan oleh masih tingginya mobilitas penduduk baik mobilitas lokal maupun mobilitas antar daerah. Di sisi lain, tingkat kepatuhan penerapan protokol kesehatan belum mengalami perbaikan signifikan.
"Upaya serius itu belum terlihat. Misalnya pengetatan perbatasan masuk wilayah PPKM level IV, menindak tegas warung makan yang masih melayani makan di tempat dan sebagainya hingga pasar tradisional yang selalu penuh sesak tanpa penerapan prokes," paparnya.
Untuk itulah, kata Taqin, meningkatkan kepatuhan penerapan prokes hingga minimal 95 persen wajib dicapai daerah agar bisa menekan laju penularan di tengah masyarakat khususnya area publik.
Kemudian testing juga perlu digalakkan hingga 10 kali lipat dari standar minimal WHO. Sedangkan tracing paling tidak dapat mencapai angka 10 bukan nol koma.
"Tanpa keseriusan dalam menerapkan pembatasan dan meningkatkan strategis 3T, maka kita akan terus berlarut dalam situasi tingginya kasus dan penularan," tandasnya.
Keputusan pemerintah pusat menetapkan status enam daerah di Kalsel menerapkan PPKM level IV terhitung mulai 10 Agustus dan dilakukan evaluasi dua minggu tepatnya 23 Agustus mendatang bersama 45 kabupaten dan kota di luar Jawa-Bali, menyusul insiden kasus masih sangat tinggi.
Misalnya data seminggu terakhir pada 9 Agustus dari Kementerian Kesehatan RI, insiden kasus konfirmasi per 100 ribu penduduk di Banjarmasin bertambah 122. Sedangkan pasien yang menjalani rawat inap di rumah sakit 91 dan meninggal 12 kasus per 100 ribu penduduk.
Adapun di Banjarbaru insiden kasus konfirmasi seminggu terakhir sebanyak 316, rawat inap 47 dan meninggal dunia 8 orang per 100 ribu penduduk.
Sementara masuknya Tanah Laut karena insiden kasus konfirmasi lebih dari 150, rawat inap lebih dari 30 dan meninggal lebih dari 5 kasus per 100 ribu penduduk.
Adapun Tanah Bumbu karena insiden kasus konfirmasi dan kematian lebih tinggi dari ambang batas. Sementara Kotabaru karena melewati insiden rawat inapnya 41 pasien per 100 ribu penduduk dan Barito Kuala karena insiden kasus konfirmasinya 172 per 100 ribu penduduk.
Pewarta: FirmanEditor : Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.