Provinsi Kalimantan Selatan memiliki potensi untuk mengembangkan energi biomasa atau pengganti solar hingga 2,5 juta ton lebih per tahun yang berasal dari limbah kelapa sawit.

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kalimantan Selatan Untung J Wiyono pada seminar dan rapat tahunan bidang ilmu MIPA untuk Perguruan Tinggi Negeri seluruh Indonesia di Banjarmasin, Senin (9/5), mengatakan minyak kelapa sawit mentah (CPO) sesungguhnya tersimpan potensi biomasa yang berasal dari sisa produksi kelapa sawit yang berupa serat (fiber) juga cangkang kelapa sawit.

Bahan serat, kata dia, berasal dari sisa-sisa daging buah kelapa sawit (mesocarp) yang telah selesai dilakukan proses ekstrasi atau pemerasan minyak yang terkandung didalamnya.

Bersama-sama dengan cangkang, kata Untung dihadapan ratusan akademisi yang berasal dari perguruan tinggi ternama di Indonesia tersebut, bahan serat tersebut digunakan sebagai umpan untuk boiler yang akan memproduksi "steam" atau uap panas bertekanan tinggi.     

"Steam tersebut dimanfaatkan oleh unit turbin untuk unit pembangkit listrik utama atau "main power" di dalam unit produksi minyak kelapa sawit mentah," katanya.

Berdasarkan data, tambah dia, areal perkebunan kelapa sawit di Kalsel selama 2010 seluas 316.869 hektare, maka potensi produksi TBS pada tingkat optimal mencapai 6.337.380 ton.

Dengan rasio tersebut diatas, kata dia, diperkirakan menghasilkan cangkang 5 persen dan tandan kosong 23 persen dan serat (fiber) 12,5 persen.

Maka, tambah dia, akan tersedia bahan bakar pengganti solar atau minyak sebesar 2.556.638 ton/tahun.

"Penggunaan bahan bakar pengganti minyak atau solar tersebut tentu cukup signifikan untuk menghemat pemakaian minyak bumi diberbagai industri di Kalsel," katanya.

Sayangnya, potensi-potensi tersebut hingga kini belum dilirik pemerintah daerah, sehingga terbuang percuma begitu saja.

Diharapkan, kedepan pemerintah daerah bisa mengembangkan energi terbarukan untuk menghambat terkurasnya energi fosil terutama di Kalsel.

"Apalagi disampaikan oleh kementerian terkait bahwa energi fosil di Indonesia akan habis dalam waktu tidak lebih dari 25 tahun lagi," katanya.

Pernyataan Untung tersebut mendapat sambutan dan pembahasan antusias dari peserta yang berharap bahwa temuan-temuan seperti tersebut bisa segera dikembangkan mengantisipasi kekurangan energi di masa mendatang.

Sebagaimana diketahui, Kalsel merupakan salah satu provinsi yang memiliki potensi sumber daya alam melimpah bukan hanya pertambangan tetapi juga perkebunan.

Sayangnya, hingga kini sumber energi tersebut belum mampu dirasakan oleh masyarakat terbukti hingga kini krisis listrik belum bisa diatasi dengan baik.

Pemadaman hampir tiap hari terjadi secara bergiliran di seluruh wilayah Kalsel.

Selain itu, antrean panjang kendaraan roda empat untuk mendapatkan solar sudah menjadi pemandangan biasa di daerah ini akibat solar di SPBU langka./*C
 


Editor : Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026