Banjarmasin (ANTARA) - Anggota Komisi II Bidang Ekonomi dan Keuangan DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel) Muhammad Yani Helmi mengharapkan, Pelabuhan Perikanan Batulicin atau PPB, Kabupaten Tanah Bumbu ke depan menjadi pelabuhan perikanan terbesar di provinsinya.

Harap wakil rakyat asal daerah pemilihan Kalsel VI/Kabupaten Kotabaru dan Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu) dari Partai Golkar itu ketika meninjau PPB (sekitar 260 kilometer timur Banjarmasin), Senin (4/1) lalu.

Oleh karena itu, dia berjanji, melalui Komisinya yang juga membidangi pertanian secara luas/umum (termasuk sub sektor perikanan) akan membantu/memperjuangkan maksil PPB tersebut.

Pasalnya, menurut anggota Komisi II DPRD Kalsel yang juga membidangi perindustrian dan perdagangan tersebut, PPB memungkinkan menjadi pelabuhan perikanan terbesar di provinsi yang kini berpenduduk lebih empat juta jiwa tersebar pada 13 kabupaten/kota itu.

"Apalagi kalau melihat potensi serta letak yang cukup strategis, sehingga tidak salah PPB menjadi pelabuhan perikanan terbesar di Kalsel," lanjut laki-laki kelahiran Tahun 1975 berbintang Leo dan penampilan atletis tersebut.

Dalam kunjungan secara mendadak wakil rakyat cukup "vokal" dan "vioner" itu ke PPB antara lain menaruh perhatian serius terhadap masalah persendian es balok sebagai salah satu bahan pengawet ikan agar tetap segar.

"Yang kami lihat tadi, bahwa pada PPB juga hampir 80 persen kekurangan es, ini harus menjadi perhatian serius, mengingat sektor perikanan juga salah satu penunjang ekonomi di Kalsel," ujar laki-laki yang akrab dengan sapaan Paman Yani itu.

Meski kunjungan dadakan, dia menyatakan, akan membantu secara maksimal agar kinerja di pelabuhan perikanan yang merupakan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) provinsi di Batulicin itu dapat bekerja lebih optimal  lagi ke depan.

Sementara itu, Plt Kepala Pelabuhan Perikanan Batulicin Akhmad Syarwani mengakui, kekurangan es balok sebagai bahan untuk mempertahankan kualitas ikan di pelabuhan tersebut memang masih sangat dirasakan pihaknya.

"Apabila pendapatan ikan melimpah di pelabuhan ini, untuk pengiriman ke Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) dan ke Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng), pulangnya mereka balik membawa es balok dari provinsi tetangga tersebut," ungkapnya.

Bahkan, lanjutnya, dari puluhan ton ikan yang sering didapatkan, Pelabuhan Perikanan Batulicin hanya mendapatkan ketersediaan es balok sekitar enam ton perhari dan untuk menutupi kekurangan tersebut nelayan dan pekerja buruh terpaksa harus mencari di luar pelabuhan.

"Serta yang jadi catatan penting kami, kebutuhan es sebagai salah satu bahan untuk mempertahankan kualitas ikan masih sangat kurang yaitu cuma enam ton dari kapasitas 10 ton, berarti empat ton sisanya dari nelayan, baik pendistribusian dan pengangkutan terpaksa harus mencari di luar pelabuhan," tegasnya.

Ia mengaku bangga atas peninjauan anggota DPRD Kalsel kendati dadakan, karena setidaknya dapat memperlihatkan fasilitas mana yang bisa menjadi skala prioritas untuk dimaksimalkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) setempat buat Pelabuhan Perikanan Batulicin.

"Kami selaku UPTD milik DKP Kalsel, sangat mengapresiasi atas kedatang atau sidak Paman Yani selaku anggota Komisi II DPRD provinsi setempat, sehingga bisa melihat secara langsung melihat kondisi kami di Pelabuhan Perikanan Batulicin," demikian Akhmad Syarwani.


 

Pewarta: Syamsuddin Hasan
Editor : Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026