Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Ketua DPRD Kalimantan Selatan Hj Noormiliyani Aberani Sulaiman meminta, agar masalah keberadaan tambak ikan di Tamban Lupak Kabupaten Barito Kuala, jangan dibesar-besarkan.


"Permintaan itu, bukan karena saya Ketua Tim Penggerak PKK Barito Kuala (Batola), Kalsel. Tapi semata-mata untuk mata pencaharian dan usaha pendapatan penduduk setempat," katanya, di Banjarmasin, Rabu.

Kalau keberadaan tambak ikan tersebut terlalu dipersoalkan atau dibesar-besarkan permasalahannya, menurut dia, kemana lagi penduduk setempat melakukan usaha yang sesuai profesi atau keahlian mereka.

"Selaku Ketua PKK Batola, saya sudah melihat. Usaha pertambakan ikan bandeng tersebut tidak melakukan pengrusakan hutan mangrove Tamban Lupak," ungkap istri H Hasanuddin Murad (Bupati Batola) itu.

"Srikandi" Partai Golkar itu mempertanyakan, mengapa usaha masyarakat yang mereka lakukan secara tradisional dipermasalahkan dan permasalahannya seakan dibesar-besarkan.

"Tapi mengapa, perusahaan atau perusahaan besar yang terindikasi merusak lingkungan terkesan tidak terlalu dipermasalahkan," lanjut perempuan pertama yang menjadi Ketua DPRD Kalsel itu.

Selain ikan bandeng, ungkapnya, di Lupak tersebut juga melakukan usaha tambak udang, yang menggunakan sistem buka-tutup dari pasang surut air laut. "Hasilnya cukup lumayan," katanya.

Mengenai ikan bandeng eks Lupak, menurut dia, rasanya lebih enak dibandingkan dengan pertambakan lain di daerah Kalsel, seperti dari Kabupaten Banjar.

"Kalau bandeng dari Lupak tidak terasa/bau tanah, berbeda dengan bandeng dari daerah lain di Kalsel," lanjutnya seraya menyatakan, penuturannya bukan promosi, karena dirinya orang Batola.

  "Oleh sebab itu, di tempat pelelangan ikan, pembeli lebih dulu mencari atau memilih bandeng dari Lupak, baru dari daerah lain," demikian Noormiliyani.    

Pewarta: Syamsuddin Hasan
: Hasan Zainuddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026