Kalau harga karet cuma seperti saat ini, kebutuhan keuangan kami masih jauh dari cukup, apalagi untuk sejahtera secara materi,"Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Harga karet pada tingkat pertani di daerah hulu sungai atau "Banua Aman" Kalimantan Selatan dalam beberapa hari belakangan mulai membaik.
Midah dan Kibah, warga Desa Aluan Mati Kecamatan Batu Benawa, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalsel, yang dihubungi Jumat, mengemukakan kalau sebelumnya harga karet bakuan hanya Rp4.500/kg, kini naik menjadi Rp6.500/kg.
Namun perempuan desa setengah baya yang juga penyadap karet itu berharap harga komoditi karet bisa kembali sepertai beberapa waktu lalu yakni mencapai belasan ribu rupiah per kilogram.
"Kalau harga karet cuma seperti saat ini, kebutuhan keuangan kami masih jauh dari cukup, apalagi untuk sejahtera secara materi," ucap Kibah, ibu dari satu anak tersebut.
Tapi, lanjut istri Sahid (mantan Kepala Desa Aluan Mati) itu, kalau harga karet baku per kilogram mencapai Rp17.000, maka masih bisa mengatasi kesulitan bilan harga bensin (premium) naik menjadi Rp9.500/liter.
Sementara Midah, ibu tiga anak itu berpendapat kalau harga karet baku per kilogram hanya Rp10.000, apalagi kurang dari itu, maka warga tani, terutama yang mengandalkan karet akan tetap menderita.
Pasalnya dengan kenaikan harga bensin bersubsidi dari Rp6.500 menjadi Rp9.500 per liter, maka mereka akan kesulitan untuk menghadapi kenaikan harga berbagai kebutuhan masyarakat karena ongkos angkut pasti melonjak.
Oleh itu pemerintahan Joko Widodo bersama HM Jusuf Kalla mengupayakan harga karet bisa naik kalau mau menaikan harga BBM.
"Syukur-syukur seperti terjadi beberapa tahun lalu dimana harga karet baku per kilogram melampaui Rp17.000, bukan seperti sekarang hanya Rp6.000-an/kg," demikian Midah.
Pewarta: Syamsuddin Hasan: Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.