Menurut Sekda di Banjarmsin, Minggu, penghitungan inflasi yang hanya terfokus di Banjarmasin belum tentu bisa mewakili kondisi perekonomian pada 12 kabupaten dan kota di Kalsel lainnya.
Dengan demikian, kata dia, data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel tentang inflasi dan laju pertumbuhan ekonomi Kalsel yang hanya berdasarkan hasil penghitungan pada Kota Banjarmasin belum tentu bisa mencerminkan kondisi sesungguhnya ekonomi Kalsel.
"Ke depan kita berharap penghitungan inflasi tidak hanya di Banjarmasin tetapi juga di seluruh kabupaten dan kota. Pemprov telah menganggarkan untuk penghitungan inflasi Kotabaru dan Tabalong," katanya.
Diharapkan, kata dia, dengan adanya penghitungan inflasi di dua kabupaten tersebut akan bisa menjadi pembanding sehingga kondisi perekonomian Kalsel yang sebenarnya bisa lebih jelas terlihat.
Peneliti Ekonomi Madya Senior BI Banjarmasin Taufik Saleh mengatakan bisa memahami dan setuju dengan keinginan Pemprov Kalsel untuk melakukan penghitungan inflasi pada seluruh kabupaten dan kota.
"Mungkin penghitungan tersebut memang penting untuk dilakukan agar bisa mengetahui secara pasti karakteristik warga Kalsel," katanya.
Menurut Taufik, tidak menutup kemungkinan karakteristik warga Banjarmasin yang jauh lebih homogen dibanding warga kabupaten dan kota lain di Kalsel sehingga dampak perekonomian yang terjadi juga akan berbeda.
Namun kata dia, bila ternyata dari dua kabupaten yaitu Tabalong dan Kotabaru ternyata memiliki karakteristik yang sama misalnya untuk konsumsi makanan sama dengan warga Banjarmasin, termasuk jenis beras yang dimakan maka hasil penghitungan inflasi juga akan sama dengan Banjarmasin.
"Kalau karakteristik masyarakat Banjarmasin dengan dua kabupaten tersebut sama maka penghitungan inflasi cukup di Banjarmasin karena dinilai sudah mewakili," katanya.
Saat ini, kata dia, perangkat untuk penghitungan inflasi pada dua kabupaten tersebut sedang disiapkaan diperkirakan pada 2011 penghitungan inflasi kedua kabupaten tersebut bisa masuk dalam penghitungan inflasi nasional.
Menurut Taufik, pada negara-negara maju kota yang dijadikan sebagai tempat penghitungan inflasi biasanya jauh lebih sedikit karena pemerataan pembangunan relatif sama atau seimbang.
Pada 2009, inflasi Kalsel hanya sebesar enam persen dan diprediksi pada 2010 inflasi melonjak hingga delapan persen dampak dari kenaikan beberapa kebutuhan pokok.
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.