Sejumlah sekolah di Kotabaru, Kalimantan Selatan, diajari membuat kain sasirangan yang merupakan produk khas Banjar, untuk menghindari masuknya sasirangan produk China.

Hal itu dilakukan bukan karena takut kalah bersaing, akan tetapi lebih menanamkan rasa cinta anak-anak terhadap produk dalam negeri dan mencintai budaya sendiri, kata Kepala Sekolah SMPN 5 Kotabaru Hj Rokayah, Rabu.

"Bahkan membuat kain sasirangan kini sudah menjadi muatan lokal (mulok) bagi siswa SMP," katanya.

Menurut sejumlah guru, beredarnya kain sasirangan asal China yang dijual dengan harga murah, menjadi tantangan tersendiri bagi warga lokal.

Karena kain motif sasirangan yang pembuatannya dibuat secara manual dan dirajut dengan menggunakan benang itu harus dilestarikan oleh masyarakat Banjar sendiri, karena telah menjadi khas daerah.

Mereka mengakui kualitas kain sasirangan produk China hasil olahan pabrik masih tidak bisa mengalahkan produk lokal.

Namun jika hal itu dibiarkan, maka lambat laun produk impor itu tidak menutup kemungkinan budaya lokal itu akan tergusur, untuk itu perlu ada upaya untuk mempertahankannya dan mengenalkan kepada generasi muda sejak dini.

Rokayah menambahkan, kain sasirangan hasil olahan siswa-siswinya itu wajib dibuat baju seragam sekolah dan taplak meja/bangku sekolah.

Bahkan, hasil kerajinan murid SMPN 5 juga telah mulai dipasarkan, karena kualitasnya tidak kalah baik dengan olahan tangan terampil dan profesional.

Kepala Dinas Pendidikan Kotabaru h Eko Suryadi Widodo Syahdan MM, mendukung upaya sekolah mempertahankan budaya dan mengenalkan kepada anak didik.

"Saya sangat slut kepada sekolah-sekolah yang kreatif fan inovatif mempertahankan budaya lokal, bahkan tidak hanya sampai disitu, membuat motif sasirangan juga dijadikan muatan lokal," terangnya.(C/B)


Editor : Ulul Maskuriah

COPYRIGHT © ANTARA 2026