"Metode bakar lahan pascapanen harus ditinggalkan, karena cara seperti itu kurang baik bagi kesuburan tanah," ujar Kepala BLH Banjar Farid Soufian di Martapura, Senin.
Ia mengatakan pembukaan lahan baru maupun pascapanen dengan cara dibakar hanya membuat komposisi tanah di permukaan yang subur, tetapi di dalamnya justru rusak.
Dijelaskan, pembakaran bagian atas tanah membuat lapisan bawah yang mengandung mineral justru akan rusak sehingga kesuburan tanah tidak berlangsung lama.
"Bagian tanah yang subur hanya dipermukaan saja, sedangkan didalam tanah justru rusak karena mineralnya juga hilang sehingga kesuburan tanah relatif singkat," jelasnya.
Menurut dia, rusaknya mineral tanah dan kerugian lain akibat metode pembakaran lahan memang belum di uji tetapi bisa dipastikan kesuburan tanah tidak berlangsung lama.
"Contoh mudahnya, pohon tidak akan tumbuh dalam jangka waktu puluhan tahun di atas tanah yang habis dibakar, justru yang mudah tumbuh adalah alang-alang," ujarnya.
Dikatakan, pembakaran lahan hanya memudahkan petani maupun masyarakat membuka lahan atau memulai kegiatan pascapanen tetapi cara itu tidak lagi bisa dibenarkan.
Sebabnya, kata dia, pembakaran lahan baik semak dan hutan membawa dampak buruk berupa kabut asap yang muncul beberapa hari setelah pembakaran tersebut.
"Makanya, kami mengimbau agar petani atau masyarakat meninggalkan metode bakar lahan karena selain merusak kesuburan tanah juga kabut asap muncul setelahnya," kata dia.
Ditambahkan, teknik lebih ramah lingkungan yang bisa dilakukan yakni memotong bekas padi atau tanaman lain diatas lahan dan membiarkannya kering sambil menunggu turun hujan.
"Cara itu lebih baik dan ramah lingkungan sehingga tidak ada lagi kabut asap bekas pembakaran lahan yang dampaknya mengganggu semua aktivitas masyarakat," katanya.
Pewarta: Yose Rizal: Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.