Bank Indonesia Banjarmasin Kalimantan Selatan memprediksi inflasi Kota Banjarmasin mencapai delapan persen atau lebih tinggi dibanding prediksi awal maksimal tujuh persen.

Peneliti Ekonomi Madya Senior BI Banjarmasin Taufik Saleh di Banjarmasin, Jumat mengatakan, sebelumnya diprediksi inflasi Kota Banjarmasin berkisar antara 6-7 persen namun kenaikan harga kebutuhan pokok yang cukup signifikan diperkirakan memicu tingkat inflasi hingga delapan persen.

"Inflasi delapan persen memang cukup tinggi dan bisa menghambat pertumbuhan ekonomi Kalsel," katanya.

Namun demikian, kata dia, diharapkan pada bulan-bulan berikutnya harga kebutuhan pokok kembali stabil sehingga inflasi bisa ditekan hingga enam persen.

Dengan demikian, kata dia, target pertumbuhan ekonomi Kalsel antara enam hingga tujuh persen bisa terealisasi.

"Tapi sepertinya berat sekarang kita menghadapi bulan puasa dan hari raya Idul Fitri yang biasanya harga kebutuhan pokok akan semakin melambung," katanya.

Pada 2009, inflasi Kalsel hanya sebesar enam persen dan bila 2010 inflasi hingga delapan persen berarti diatas rata-rata nasional.

Dari hasil kajian BI, kata dia, kenaikan harga kebutuhan pokok tidak hanya terjadi di Kalsel tetapi hampir di seluruh daerah di Indonesia, termasuk Jawa dan Jakarta yang merupakan sentra produksi kebutuhan pokok.

Kenaikan harga kebutuhan pokok yang cukup tinggi tersebut, kata dia, disebabkan cuaca ekstrim sehingga terjadi penurunan produktivitas petani.

Selain itu, kata dia, beberapa komoditi pertanian di daerah Jawa juga terkena hama wereng sehingga mengalami gagal panen.

Beberapa kebutuhan pokok yang terus mengalami kenaikan yaitu beras lokal kini Rp12.000 perkilogram dari sebelumnya hanya Rp5.000-7.000 perkilogram, gula pasir sebelumnya sempat turun hingga hanya Rp7.500 kini menjadi Rp10.000 perkilogram.

Begitu juga dengan minyak goreng curah kuning sebelumnya Rp7.500 naik menjadi Rp8.000 perkilogram.

Selain itu, kata dia, harga sayur mayur, cabai hingga bawang merah dan bawang putih juga naik signifikan. Seperti bawang merah sebelumnya sekitar Rp13.000-Rp15.000 perkilogram, kini mencapai Rp18.000 perkilogram bahkan sempat Rp22.000 perkilogram.

Pedagang besar bawang di Pasar Lima Banjarmasin, Mamak Dedi mengatakan, harga bawang merah selain naik tajam harganya juga cukup berfluktuasi.

"Kadang-kadang harganya sampai Rp24.000 perkilogram tapi kadang turun menjadi Rp20.000 perkilogram. Kalau sebelumnya paling mahal Rp15.000 perkilogram," katanya.

Sedangkan bawang putih, kata dia, bisa mencapai Rp26.000 perkilogram dari sebelumnya tidak lebih dari Rp15.000 perkilogram.


Editor : Abdul Hakim Muhiddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026