Alokasi dana tersbeut masing-masing Rp5 miliar dari Anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) provinsi dan Rp24 miliar dari APBN pusat, katanya di Tanjung, senin.
Selain digunakan untuk biaya operasional penanggulangan bencana, dana tersebut juga dialokasikan bagi pelatihan petugas di kabupaten dan kota serta melengkapi berbagai fasilitas.
Zainal mengungkapkan, di Kalsel lima bencana alam yang cukup mendominasi yakni angin puting beliung, tanah longsor, banjir, gelombang pasang dan kebakaran baik lahan maupun pemukiman.
Sementara itu untuk memperkuat kelembagaan, BPBD Kalsel menggelar "road show" dan sosialisasi penanggulangan bencana di tiga kabupaten, yakni Tabalong, Hulu Sungai Utara (HSU) dan Hulu Sungai Selatan (HSS).
"Saat ini kita memiliki enam badan penanggulangan bencana daerah di sejumlah kabupaten dan untuk memperkuat kelembagaan di daerah kita melaksanakan sosialisasi terkait peraturan penanggulangan bencana," jelas Zainal.
Dalam sosialisasi tersebut, BPBD Kalsel menurunkan satu unit mobil dapur umum dengan kapasitas untuk 3.000 orang, mobil pengolah air dan sarana WC umum.
Sekretaris Kantor Penanggungan bencana daerah Tabalong, M Noor Rifani mengatakan, sepanjang 2010 tercatat 10 kali bencana tanah longsor, 19 kali kebakaran dan 4 kali bencana angin puting beliung.
Dari hasil inventarisasi sekitar delapan desa di Tabalong tergolong rawan bencana seperti banjir dan tanah longsor, jelas Rifani (mia/B).
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.