Populasi bekantan di wilayah Kotabaru dan Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan akhir-akhir ini mulai berkurang.

Kepala Seksi Badan Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Batulicin, Tanah Bumbu Suwandi di Batulicin, Jumat mengatakan, salah satu penyebab berkurangnya populasi bekantan adalah perambahan hutan mangrove dan kualitas hutan mangrove semakin turun.

"Bahkan ada bekantan yang berkeliaran ke perkampungan penduduk karena kesulitan mendapatkan makanan di hutan," kata Suwandi.

Hal itu juga disebabkan semakin menyempitnya kawasan hutan yang menjadi tempat berkembangbiak bekantan tersebut.

Kendati belum menginventarisasi jumlah populasi, Suwandi memastikan jumlah bekantan di Kotabaru dan Tanah Bumbu telah berkurang.

Padahal berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 07 Tahun 1999 hewan yang hanya terdapat di hutan tropis Kalimantan itu harus dilindungi.

Kendati tidak menyebutkan jumlah berkurangnya populasi primata itu, Suwandi mengatakan ha itu juga disebabkan jenis makanan bekantan seperti buah rambai, buah dan pucuk daun bakau tidak lagi tersedia di hutan mangrove.

Berdasarkan data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel pada 2007 populasi hewan hidung panjang diperkirakan masih mencapai sekitar 5.010 ekor.

Daerah-daerah yang masih terdapat populasi bekantan yaitu di cagar alam Selat Sebuku Kabupaten Kotabaru terdapat 3.500 ekor dan suaka margasatwa Pelaihari Kabupaten Tanah Laut (Tala), 1.200 ekor.

Selain itu, di Kuala Lupak Tabunganen Kabupaten Barito Kuala 150 ekor, Pulau Kaget 100 ekor, di Taman Wisata Alam Pulau Kembang 10 ekor dan Pulau Bakut 50 ekor.


Editor : Abdul Hakim Muhiddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026