Udara dini hari itu cukup dingin seolah "menusuk", hingga sumsum tulang, ditambah angin dan rintik air dari langit yang gelap, pertanda hujan akan turun. Suasana itu bagi kebanyakan orang tentu memilih menutupi tubuhnya dengan selimut tebal dan hangat.

Sayup-sayup terdengar dari kejauhan, suara mengaji dari corong masjid di kompleks perumahan, jarum jam tepat menunjuk pukul 04.00 Wita, di saat kebanyakan masyarakat terlelap dalam tidurnya, namun tidak demikian bagi Rochmat (55), yang satu tahun terakhir ini menempati rumah baru seluas 100 meter persegi di Kompleks AMD Permai Blok B9 Banjarmasin Utara yang dibelinya senilai hampir Rp500 juta.

Rumah tersebut sedikit lebih kecil dari rumahnya yang dibangun di pusat kota ibu kota Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, berlantai dua dengan konstruksi beton.

Menjadi kebiasaan lelaki paru baya ini dalam kesehariannya, sebelum dikumandangkan suara adzan subuh, ia bangun tidur dan beranjak dari ranjang empuk miliknya menuju kamar mandi untuk mandi, wudhu dan menunaikan sholat tahajut berikut wirit.

Sekitar 45 menit kemudian, baru terdengar suara mu`azin pertanda memanggil untuk sholat subuh berjamaah di masjid.

Seperti hari-hari biasa saat tinggal di rumah Banjarmasin, pagi-pagi sekali sebelum ufuk fajar menyingsing, dengan mobil Toyota Inova warna putih yang dibelinya setahun silam, Rochmat meluncur menuju masjid Hasanudin Madjedi di bundaran Kayu Tangi, Banjarmasin yang berjarak sekitar dua kilometer dari rumahnya.

Selain sholat subuh berjamaah dilanjutkan dengan mendengarkan kuliah subuh, hingga pukul 06.15 Wita.

"Beginilah keseharian saya kalau tinggal di Banjarmasin, lain halnya jika tinggal di Kotabaru, jarang ada pengajian subuh, jadi biasanya usai sholat subuh berjamaah di langgar dekat rumah, ya mengaji (membaca Al Qur�an) dan kemudian menyimak ceramah lewat televisi," tutur Rochmat memulai perbincangan saat ditemui di rumah Banjarmasin sepulang dari masjid usai mendengarkan kuliah subuh.

Sembari "menyeruput", secangkir teh hangat yang disajikan sang istri, Saniah (50), lelaki kelahiran Lamongan, Jawa Timur ini mengaku ia datang ke Kalimantan Selatan tepatnya di Kecamatan Kelumpang Selatan Kabupaten Kotabaru melalui program Transmigrasi bersama hampir seluruh keluarga anak, istri, orangtua dan saudara-saudara pada tahun 1985 silam.

Rochmat yang dikaruniai dua putri dan seorang putra juga seorang cucu, mengaku bahagia atas karunia sukses yang dinikmati saat ini.

Putri tertua, Yayuk Zulaicha (30) yang sudah bekerja menjadi PNS di lingkungan Dinas Bina Marga Kabupaten Kotabaru usai meluluskan studinya di Politeknik Negeri Banjarmasin dan kini dikaruniai seorang anak berusia 5 tahun.

Sedangkan putra kedua, Ahmad Nurul Huda (28) yang juga menjadi PNS di lingkungan dinas yang sama dengan sang kakak. Sedangkan si bungsu Siti Fitria (19) yang saat ini masih duduk di bangku kuliah Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat semester VI.

"Hari-hari biasa, saya tinggal di rumah Kotabaru, karena keluarga banyak di sana sembari memantau kebun sawit, tapi kalau sekarang Pipit (sebutan akrab anak bungsu, red) kuliah di Banjarmasin, saya dan istri mendampingi tinggal di sini," ujarnya.



Situasi Sudah Berubah

Kondisi sekarang ini menurut Rochmat tidaklah sama dengan situasi 29 tahun silam, momen pertama tiba di bumi Kalimantan.

Meski awalnya menjadi transmigran bukanlah cita-citanya, sebab opini yang berkembang di masyarakat, ikut transmigrasi berarti menjadi "orang buangan".

Saniah, istrinya yang mendampingi saat diwawancarai, mengamati saat sang suami berkisah mengenang masa-masa pahit sewaktu pertama tinggal di satuan pemukiman (SP) 5, salah satu unit pemukiman transmigrasi (UPT) di Kecamatan Kelumpang Selatan bersama 300 KK lainnya berasal dari Lamongan Jawa Timur, Solo dan Cilacap Jawa Tengah, serta Sukabumi Jawa Barat.

Dengan segala keterbatasan kemampuan dan pengalaman, Rochmat yang berasal dari Desa Tenggiring Kecamatan Sambeng, Lamongan Jawa Timur itu sebelum menjadi petani transmigran adalah seorang tukang becak yang biasa mangkal di kawasan Jl Manukan, Tandes, Surabaya Barat.

"Awalnya saya tidak ada keinginan ikut trans, sebelumnya saya dipamiti orangtua yang katanya mau berangkat tranmigrasi ke Kalimantan karena sebelumnya mendengar informasi dari seorang tetangga yang sudah pernah berangkat trasmigrasi dan pulang untuk mencari warga di daerahnya yang mau menjadi petani transmigran di Kalimantan," kenang Rochmat.

Menurut orangtuanya dari penuturan si tetangga tadi, kalau menjadi petani transmigran itu sangat enak, karena selain diberi gratis rumah siap huni, tanah garapan seluas dua hektare, juga diberi jaminan hidup (Jadup) selengkapnya mulai dari beras, gula, ikan, minyak tanah dan minak goreng, dan lain-lain termasuk peralatan pertanian dan bibit-bibitan untuk ditanam.

"Sebetulnya saya tidak tega melihat bapak dan adik-adik (tiga orang) yang masih kecil saat itu berangkat ke Kalimantan, akhirnya saya yang saat itu sudah mempunyai dua anak juga memutuskan untuk ikut, alih-alih mau mengubah nasib karena akan dikasih rumah dan tanah garapan yang luas," ujar Rochmat.

Berbekal harapan dan segudang angan-angan bisa bercocok tanam apa saja dengan lahan yang luas itu, Rochmat dan keluarga dengan mantap berangkat bersama 175 KK dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Lamongan dengan naik kapal laut bernama KM Towuti dari pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Melihat kondisinya, kapal besi yang sejatinya adalah kapal barang yang digunakan untuk mengangkut para transmigran itu, sudah cukup tua karena banyak karat di sana-sini pada lambung kapal, dan cukup ditutup dengan terpal sebagai atapnya.

Tidak seperti yang dibayangkan sewaktu masih di Jawa, sesampainya di tempat tinggal baru, betapa getir dan pahit yang dirasakan Rochmat dan ratuwan jiwa dalam rombongan tranmigran itu, karena untuk bisa mencapai desa SP 5 harus melalui jalan yang berliku yakni turun dari kapal "renta", yang membawa dari Surabaya hingga perairan Kotabaru selama 4 hari 3 malam, kemudian diangkut menggunakan kelotok (perahu bermesin) menuju anak sungai menuju belantara hutan bakau yang konon belum pernah dijamah oleh manusia sebelumnya.

Setelah mendarat di hilir sungai, harus berjalan kaki sepanjang puluhan kilo meter keluar masuk melalui semak belukar dan hutan. Setelah hampir seharian, tepat waktu maghrib sampailah di perkampungan baru bernama SP 5, waktupun berlanjut dengan pembagian rumah oleh petugas kepada warga.

Hari-hari dilalui, waktu terus berjalan hingga satu tahun. Bersamaan jatah jaminan hidup berupa sembako sudah habis, karena sesuai ketentuan jadup hanya diberikan satu tahun pertama sebagai stimulus bagi petani sebelum mempunyai penghasilan dari pertaniannya.

Maka kegelisahan pun dirasakan Rochmat dan hampir seluruh warga transmigran, pasalnya jadup sudah habis, sementara lahan garapan belum bisa diandalkan hasilnya menyusul kurangnya kesuburan tanah dibanding dengan tanah jawa.

Rochmat nekat untuk hijrah dari pemukiman trans ke Kotabaru mencari peruntungan menjadi kuli bangunan. Alhasil, dari kerja kasar yang dilakoninya kemudian meningkat menjadi tukang dan atas pengalaman yang dimilikinya, belum genap dua tahun menjadi tukang, kemudian ia berani menjadi pemborong.

Menginjak tahun ke lima (1991), informasi dari Kepala UPT (pemimpin setingkat kepala desa di pemukiman transmigrasi, red) mengatakan lahan 1,75 hektar milik warga trans akan diplasma oleh perusahaan.

"Karena memang tidak tahu, apa artinya plasma dan apa manfaatnya bagi warga, jadi ya ikut saja apa yang disebutkan kepala UPT tadi, toh selama ini belum tahu dimana dan bagaimana rupa lahan tersebut,� gumam Rochmat.

Sementara proses plasma oleh perusahaan berjalan, kebanyakan warga tetap pada urusan masing-masing yakni, berusaha mencari penghasilan untuk bertahan hidup, salah satunya dengan cara membuat arang kayu, termasuk ia dan keluarga besarnya dengan cara menebang pohon-pohon besar di hutan, kemudian menyusun dan membakar.

Setelah tiga hari tiga malam, baru bisa dibuka dan kemudian dikemas dalam karung ukuran sedang yang dijual Rp1.000 - Rp1.500 per karung, dari situlah mayoritas warga trans SP 5 saat itu bisa makan, karena lahan pekarangan 2.500 meter persegi yang digarapnya tidak bisa diandalkan hasilnya.

Kondisi serba sulit tersebut membuat warga asal Lamongan, Jawa TImur tersebut merasa berangkat transmigrasi ke Kotabaru, Kalsel, merasa terbuang.

Tidak sedikit yang berusaha menjadi kuli bangunan di Kotabaru, ada juga yang mencari peruntungan bersama nelayan tetangga desa ikut mencari ikan laut, yang penting bisa bertahan hidup.

Seiring berjalannya waktu, tidak sedikit warga trans yang merasa tidak betah dan akhirnya pulang ke jawa dengan menjual rumah dan pekarangan jatah dari pemerintah berikut lahan 1,75 hektar yang telah di plasma.

Namun kondisi tersebut tidak membuat Rochmat bergeming, dengan sisa-sisa keyakinan yang menjadi harapan kelak keadaan akan berubah, maka ia beli rumah dan lahan milik tetangganya yang ditawarkan tersebut dari tabungan yang dikumpulkan saat menjadi tukang dan pemborong kecil-kecilan saat merantau ke kota kabupaten Kotabaru.

"Saat itu harga lokasi (sebutan rumah dan lahan warga trans, red) yang ditawarkan orang-orang yang mau pulang ke jawa sangat murah, kisaran Rp1,5 juta - Rp2 juta. Bahkan pernah menjumpai ada yang hanya senilai uang cukup untuk bekal ongkos kapal laut sampai ke pulau jawa," tutur Rochmat seraya menceritakan hingga dirinya bisa memiliki 4 paket lokasi.

Sekitar tujuh tahun berikutnya, sekitar 1997-an kabar gembira bagi warga trans termasuk dirinya, karena lahan yang diplasma sawit oleh PT Sinar Kencana Inti Perklasa (SKIP), mulai membagi hasil walaupun saat itu jumlahnya tidak seberapa, mulai dari Rp25 ribu hingga Rp50 ribu per paket, namun dari bulan ke bulan nilainya terus meningkat hingga sekarang perolehan mencapai Rp3-Rp4 juta per hektar per bulan.

Empat paket atau sekitar 7 hektar plasma yang dimiliki, Rochmat mengaku bisa mendapat hasil hingga Rp20 juta lebih per bulan.

Bak mendapat "durian runtuh", kegetiran hidup bertahun-tahun yang dialaminya, kini kehidupan berubah seiring dengan kebebasan finansial yang dirasakan, namun demikian ia bertekad mengentaskan pendidikan anak-anaknya.

Dari hasil plasma sawit itu, sembari membangun rumah reot yang dibelinya di pusat Kotabaru berubah menjelma menjadi rumah beton bertingkat dengan lima kamar tidur, tiga kamar kecil dan ruang keluarga yang cukup luas.

Selain itu ia mengkuliahkan anak tertua ke Banjarmasin (ibu kota propinsi sekitar 400 km dari tempat tinggalnya saat itu, red).

Berturut-turut kemudian anak kedua kuliah di Fakultas Teknik salah satu universitas negeri di Surabaya, dan terkini pada tahun 2011 ia berhasil memasukkan anak bungsunya ke fakultas favorit di Unlam yakni Fakultas Kedokteran, dan kini sudah duduk semester VI, bersamaan itu Rochmat mampu membeli rumah di kawasan perumahan kelas menengah Banjarmasin bagian utara, sekitar 5 menit perjalanan menuju jantung kota Banjarmasin ibukota Propinsi Kalsel.

Bahkan setahun sebelumnya, ia bersama istrinya telah menunaikan ibadah haji setelah sebelumnya ia setorkan ONH pada 2007 sekitar Rp60 juta lebih untuk keduanya.

Bermaksud menularkan kesuksesannya itu, Rochmat menyarankan kepada sanak faimili terutama kedua anaknya yang kini telah menjadi PNS dan berkeluarga agar berani investasi dengan cara berkebun sawit, karena hasilnya nyata bukan sekedar dongeng.

Atas inspirasi tersebut, anak-anaknya itu telah memiliki puluhan hektar tersebar di Kecamatan Kelumpang Selatan dan Kelumpang Hulu Kabupaten Kotabaru yang ditanami sendiri dan kini mulai memetik buah.

Demikian halnya Rochmat, selain menikmati hasil plasma tiap bulannya, dan hasil panenan dua hektar yang ditanaminya sendiri di Desa Bumi Asih (dulu bernama SP5, red), kini ia telah mengembangkan usahanya dengan membeli lahan sawah di pulau jawa tepatnya di Desa Sumber Sari, Sambeng Lamongan desa asal ia tinggal yang sekarang ditanami tebu.

"Banyak karunia Gusti Alloh kepada saya dan keluarga yang syariatnya dari tanaman sawit, untuk itu saya mau menularkannya kepada siapa saja yang mau. Belum terlambat kalau mau sukses menjadi petani sawit, seperti saya yang dulunya dalam kehidupan `terjepit" namun kini melejit berkat sawit," seloroh Rochmat seraya tertawa kecil sambil mempersilahkan untuk menikmati kudapan yang disajikan istrinya.

Di kala sedang sendiri di tengah malam saat bermunajat kepada Allah SWT, Rochmat bersama keluarganya baru mengetahui rahasia dibalik keberangkatannya transmigrasi sengsara membawa nikmat.



Pewarta: Oleh Imam Hanafi
: Ulul Maskuriah

COPYRIGHT © ANTARA 2026