Oleh Imam Hanafi

Kotabaru, (Antaranews Kalsel) - Manajamen Perusahaan Listrik Negara Cabang Kotabaru, Kalimantan Selatan, menawarkan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang memproduksi listrik dengan sistem Energi Baru Terbarukan (EBT).

"Salah satu tujuan kerja sama tersebut agar PLN bisa melayani masyarakat di pelosok-pelosok desa yang belum mendapatkan pelayanan listrik dari PLN," kata General Manager PT PLN Cabang Kotabaru, Basuki Rahman di Kotabaru, Jumat.

Basuki mengimbau kepada perusahaan-perusahaan yang memproduksi listrik, dan berlebih untuk dijual ke PT. PLN dengan harga yang sudah ditetapkan pemerintah, yakni, Rp852,8 per kwh.

Listrik yang dibeli PLN dari perusahaan tersebut akan dijual kepada masyarakat yang belum mendapatkan pelayanan listrik dari PT. PLN dengan harga subsidi pemerintah yakni, Rp700 per kwh.

PLN tidak akan mengambil keuntungan apapun dari masalah tersebut, karena sebagai Badan Usaha Milik Negara PLN bertekad memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat luas.

Menurut Basuki, akhir-akhir ini mulai bermunculan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di daerah, mereka memproduksi listrik sendiri dan berlebih.

Pabrik PKS minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) tersebut. memproduksi listrik dengan menggunakan bahan bakar limbah sawit berupa cangkang kelapa sawit.

Kelebihan listrik tersebut diharapkan bisa dijual ke PT. PLN untuk melayani masyarakat di sekitar perusahaan, khususnya mereka yang belum terjangkau oleh layanan listrik dari PLN.

Saat ini, kata Basuki, pihaknya sudah bekerja sama dengan beberapa perusahaan di daerah yang kelebihan daya, seperti, perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Alam Raya Kencana Mas, perusahaan pengolahan bijih besi PT Meratus Jaya Iron Steel Engineering Vacancies Batulicin, serta perusahaan semen PT Indocement Tunggal Prakarsa.

Listrik hasil produksi perusahaan perkebunan PT Alam Raya Kencana Mas, dialirkan untuk melayani masyarakat sekitar perusahaan.

Daya yang dibeli PT PLN dari perusahaan perkebunan kelapa sawit tersebut saat ini baru sebesar 3,2 MW.

Ke depan, produksi daya yang dijual ke PLN akan ditingkatkan menjadi 4-5 MW, agar masyarakat yang mendapatkan layanan listrik dari PT PLN akan semakin luas.

Masih menurut Basuki, PLN kini sedang giat-giatnya mendorong industri listrik dengan menggunakan energi baru terbarukan.

Karena biaya produksi listrik dengan sistem EBT tersebut jauh lebih murah dibandingkan dengan menggunakan mesin pembangkit berbahan bakar BBM fosil, seperti, solar.

Biaya produksi listrik dengan bahan bakar solar sekitar Rp2.700 per kwh.

"Bahan bakar power plant yang menggunakan cangkang sawit tersebut bisa diproduksi kembali, dan bisa diperbaharui, berbeda dengan bahan bakar solar atau yang lainnya," tuturnya.


: Ulul Maskuriah

COPYRIGHT © ANTARA 2026