Banjarmasin,(Antara) - Anggota DPR RI Komisi VII asal Daerah Pemilihan Kalimantan Selatan Gusti Iskandar Sukma Alamsyah mengatakan pemerintah pusat segera menuntaskan konversi minyak tanah ke elpiji pada tiga provinsi di Indonesia, termasuk Kalsel.
"Kami telah menyetujui anggaran untuk penuntasan konversi dari minyak tanah ke gas pada tahun ini juga," kata Gusti Iskandar di Banjarmasin, Senin.
Menurut Gusti, saat ini tinggal tiga provinsi di Indonesia belum bisa menuntaskan konversi minyak tanah ke gas, sedangkan provinsi lain sudah tuntas seluruhnya.
Gusti memngungkapkan bahwa keterlambatan penyelesaian proses konversi, awalnya terjadi karena sebagian kepala daerah di di Kalsel menolak untuk dilakukan konversi sehingga terpaksa pemerintah pusat melalui kementerian terkait menunda program tersebut.
Akibatnya, Kalsel yang awalnya lebih dahulu konversi, justru tertinggal oleh Kalimantan Tengah, maupun wilayah Kalimantan lainnya, yang kini proses konversi justru tidak ada masalah berarti.
"Saya akan bantu menyelesaikan masalah ini, persoalannya pemerintah daerah tidak ada yang menyampaikan tentang konversi ini ke DPR RI," katanya.
Menurut Gusti, seandainya persoalan keterlambatan penyelesaian proses konversi tersebut disampaikan ke DPR RI lebih awal, mungkin kini sudah selesai mengingat program tersebut merupakan program pusat.
"Kalau disampaikan ke Pertamina, memang bukan kewenangannya karena Pertamina hanyalah pihak yang menyalurkan, sedangkan pemegang kebijakan adalah kementerian terkait bersama DPR," katanya.
Sebelumnya, pada tahun 2010, empat wilayah di Kalsel menerapkan konversi minyak tanah ke elpiji secara bertahap pada tahun 2010 adalah Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, dan Kabupaten Balangan.
Saat itu, jumlah paket berupa tabung elpiji, kompor, dan regulator yang dibagikan kepada masyarakat mencapai 650.000 unit.
Selesai empat kabupaten tersebut, Pemerintah menghentikan proses konversi hingga dua tahun, dan pada tahun 2013 rencananya Pemerintah kembali melanjutkan proses konversi kepada lima kabupaten dari sembilan kabupaten yang tersisa.
Belum meratanya konversi terhadap seluruh daerah tersebut, membuat harga gas elpiji 3 kilogram naik signifikan, dari seharusnya Rp15.500 kini mencapai lebih dari Rp27 ribu per tabung.
Kondisi tersebut dipicu karena jatah yang seharusnya dinikmati oleh empat kabupaten dan kota, kini diperebutkan oleh 13 kabupaten dan kota, bahkan sebagian "mengalir" ke daerah tetangga, yaitu Kapuas, Kalimantan Tengah.
: Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.