Oleh Hasan Zainuddin

Banjarmasin, (Antaranews Kalsel)- Seorang pemerhati lingkungan hidup Bachtiar Nor menyatakan udara Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan dibandingkan era tahun 1983 ke bawah kondisinya semakin panas.


"Hal tersebut tidak lepas dari efek pemanasan global," kata Bachtiar Nor pada acara sosialisasi kota hijau yang diselanggarakan Dinas Tata Ruan Kota Banjarmasin, di Banjarmasin, Jumat

Dalam sosialisasi yang diikuti kalangan pecinta lingkungan, anggota Forum Komunitas Hijau (FKH) dan pelajar, Ia menambahkan kian panas udara Banjarmasin tersebut utamanya lantaran semakin banyaknya produksi karbon (CO2) dari pembuangan gas kendaraan bermotor.

Produksi CO2 tersebut sebagian besar atau 80 persen justru diproduksi di perkotaan dan hanya 20 persen dari pedesaan.

Di Kota Banjarmasin saja sedikitnya ada 400 ribu buah kendaraan roda dua yang hilir mudik yang memproduksi CO2, kemudian mobil ada sekitar 100 ribu buah, belum lagi kendaraan yang datang dari kabupaten lain serta provinsi tetangga.

Melihat kenyataan tersebut wajar jika pemerintah sekarang kosentrasi mengatasi masalah pemanasan global tersebut melalui perkotaan, maka dikenal sebagai program kota hijau (green city).

Oleh karena itu seharusnya Banjarmasin memiliki Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang banyak lagi minimal 30 persen dari luas kota, 20 persen milik pemerintah dan 10 persen dikelola swasta dan masyarakat.

Sementara pembicara yang lain Wakil Ketua FKH Banjarmasin Mohammad Ary mengajak masyarakat Banjarmasin menyukseskan program kota hijau yang sudah ditandatangani Wali Kota Banjarmasin Haji Muhidin.

Ada 60 kota di Indonesia yang menandatangani program kota hijau termasuk Banjarmasin, karena itu tak ada pilihan lain bagaimana pemerintah bersama masyarakat menciptakan kota yang benar-benar hijau.

Menurutnya ada delapan atribut sebagai kota hijau, seperti sekolah hijau, gedung dengan sarana dan prasana ramah lingkungan, transportasi hemat energi, penanganan sampah dan lainnya yang kesemuanya itu mengarah pada perbaikan lingkungan guna mengurangi efek dari pemanasan global tersebut.

Sebab tambah dosen Unlam Banjarmasin itu, efek dari pemanasan global itu sudah dirasakan di Banjarmasin di mana seringkali terjadi banjir di perkotaan saat musim penghujan dan kekeringan saat kemarau.

FKH sebuah organisasi cinta linkungan bertekad menciptakan suasana sejuk dan rindang terhadap kota Banjarmasin sehingga mampu menyerap karbon dan memproduksi oksigen sebanyaknya untuk kehidupan bersama, katanya.

  Selain dua pembicara dalam kegiatan yang berlangsung di Hotel Victoria tersebut masih terdapat tiga pembicara lainnya termasuk Ketua PWI Kalsel, Faturahman peran media massa mengurangi kerusakan alam di wilayah ini.   


: Hasan Zainuddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026