Banjarmasin, (Antaranews.Kalsel) - Koordinator Aliansi Pemantau Pemilu Independen (APPI) Kalimantan Selatan Muhith Afif mengkritisi politisi "kutu loncat" (pindah-pindah partai politik), terutama di provinsi tersebut.
"Berdasarkan pemantauan APPI Kalsel, sedikitnya ada sembilan politisi kutu loncat akan meramaikan Pemilu 2014. Mereka itu seakan tak punya ideologi perjuangan," tandasnya dalam keterangan pers di Banjarmasin, Minggu.
"Politisi kutu loncat itu tercatat dalam Daftar Calon Tetap (DCT) Pemilu 2014, untuk daerah pemilihan (dapil) Kalsel," ungkap dosen luar biasa Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin tersebut.
Muhith yang juga Direktur Lembaga Komunitas untuk Demokrasi (Lkomdek) itu mengungkap, dari Partai NasDem ada Risdianto Haleng bekas politisi Partai Demokrat, dan Tasriq Usman, sebelumnya Partai Golkar.
Kemudian Adhariani, bekas politisi Partai Amanat Nasional (PAN), yang kini anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, dan Taranie Effendy, bekas politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ada Zairullah Azhar, sebelumnya pernah di Partai Golkar. Begitu pula di Partai Golkar kelihatannya paling banyak tak terbebas dari peson politisi kutu loncat.
Sebagai contoh mereka yang bercokol di Partai Golkar dan ikut Pemilu 2014, antara lain Bambang Heri Purnama calon anggota DPR-RI, sebelumnya PKB, serta Hj Haryati (istri Bambang HP) calon anggota DPRD Kalsel, sebelumnya juga dari PKB. Di Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) juga banyak terdapat politisi kutu loncat, antara lain Taufik Effendi, bekar politisi Partai Demokrat, untuk calon anggota DPR-RI.
Selain itu, di Gerindra terdapat nama mantan Wali Kota Banjarmasin, A Yudhi Wahyuni, HM Nahwan, keduanya bekas politisi Partai Amanat Nasional (PAN), serta mantan Bupati Kotabaru, Kalsel H Sjachrani Mataja, sebelumnya Partai Golkar.
"Hanya ada beberapa partai politik (parpol) di Kalsel yang relatif terbebas dari politisi kutu loncat, antara lain Partai Demokrat, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) dan Partai Bulan Bintang (PBB)," ungkapnya.
"Fenomena politisi kutu loncat yang cukup banyak, pertanda para politisi kutu loncat tdk punya ideologi untuk diperjuangkan. Mereka terkesan cuma punya hasrat untuk berkuasa di parlemen," lanjutnya.
Ia memperkirakan, kalau dengan partai yang sudah memfasilitasi dan berjasa mengkader para politisi kutu loncat itu tidak setia, maka tak ada jaminan bahwa mereka akan setia memperjuangkan aspirasi konstituen.
"Bagi para politisi kutu loncat, konstituen hanya ibarat komoditas yang dapat dipermainkan sekehendak hati mereka," demikian Muhifh Afif.
Editor : Asmuni Kadri
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.