Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan Farida Wariansi mengatakan program konversi minyak tanah ke gas di daerah ini banyak salah sasaran.
Menurut Farida di Banjarmasin, Rabu, berdasarkan pantauan petugas Disperindag, dalam beberapa minggu terakhir harga LPG (liquified petroleum gas) atau elpiji terus naik.
Padahal, kata dia, harga kebutuhan pokok masyarakat di Banjarmasin pada bulan Oktober mengalami penurunan.
"Hanya elpiji, terutama tabung 3 kilogram mengalami kenaikan," katanya di Coffee Morning di Pemprov Kalsel.
Menurut dia, kenaikan harga tersebut, salah satu disebabkan merembesnya distribusi elpiji 3 kg ke daerah-daerah yang belum melaksanakan program konversi, termasuk ke luar Kalsel.
Seperti diketahui, program konversi di Kalsel baru dilaksanakan di empat daerah, yakni Banjarmasin, Banjarbaru, Kabupaten Banjar, dan Balangan.
"Saat melakukan pantauan harga di Kotabaru, kami menemukan elpiji 3 kg yang dijual dengan kisaran harga Rp38 ribu hingga Rp40 ribu per tabung," katanya.
Harga tersebut jauh lebih mahal daripada harga elpiji di Banjarmasin yang harga mencapai Rp21 ribu, padahal harga eceran tertinggi (HET) yang ditentukan adalah Rp15.500 per tabung ukuran 3 kg.
Terhadap kenaikan tersebut, para agen elpiji beralasan bahwa naiknya harga disebabkan distribusinya berkurang.
Menurut para distributor, kata Farida, mereka menjual ke pangkalan dan pengecer dengan harga Rp14 ribu per tabung.
"Jadi, diduga pangkalan dan pengecer yang menjualnya dengan harga tinggi," katanya.
Selain merembes ke daerah lain, beber Farida, tingginya harga elpiji ukuran 3 kg juga disebabkan banyaknya kalangan industri, termasuk restoran dan hotel, yang turut menggunakan elpiji yang disubsidi itu.
"Seharusnya mereka menggunakan elpiji nonsubsidi. Masih banyak ditemukan rumah makan, restoran, dan hotel yang turut menggunakan elpiji ukuran 3 kg," katanya.
Terkait dengan hal tersebut, program konversi di Kalsel, kini akan kembali ditambah untuk enam daerah yang segera melaksanakan program konversi, yakni Batola, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, dan Tabalong.
"Kemudian dilanjutkan ke daerah-daerah lainnya, yakni Tanah Laut, Tanah Bumbu, dan Kotabaru," katanya.
Sekdaprov Kalsel H.M. Arsyadi mengatakan bahwa Pemprov Kalsel berencana memasang stiker terkait dengan penggunaan tabung gas yang subsidi dan nonsubsidi.
"Stiker-stiker tersebut dipasang bagi pengguna yang harus menggunakan elpiji nonsubsidi dan masyarakat yang menggunakan gas elpiji bersubsidi," katanya.
Editor : Asmuni Kadri
COPYRIGHT © ANTARA 2026