Oleh Imam Hanafi

Amuntai, (Antaranews Kalsel) - Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, berusaha melestarikan keberadaan kerbau rawa yang menjadi ciri khas daerah setempat. 


Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Perikanan dan Peternakan Hulu Sungai Utara Drh I Gusti Putu Susila, melalui siaran pers Pemkab setempat, Rabu, mengatakan, pihaknya tidak bisa membatasi atau mengendalikan penjualan kerbau rawa (bubalus bubalis) untuk dipotong.

"Kami berharap peternak menyadari kelestarian ternak yang hidup dirawa dan menjadi ciri khas dan kebanggan Hulu Sungai Utara, untuk tidak dijual guna dipotong, terutama indukannya," jelasnya.

Ia mengharapkan kepada para peternak untuk tidak menjual kerbau induk atau betina, karena untuk pengembangbiakan, tetapi yang dijual hanya kerbau pejantan.

Hal itu dikatakan, mengingat menjelang Hari Raya Kurban, masyarakat banyak memerlukan hewan untuk berkurban.

Untuk Idul Adha 1434 H kali ini, sebanyak 74 kerbau rawa sudah didata petugas dari Desa Paminggir, Desa Kayakah dan Bajawit.

"Tidak sedikit kerbau rawa ini yang didatangkan pedagang dari kawasan Tampulung Propinsi Kalimantan Tengah untuk memenuhi permintaan pembeli di Hulu Sungai Utara," paparnya.

Sedangkan untuk kebutuhan akan daging kambing, para pedagang di HSU mendatangkannya dari Tulung Agung, Jawa Timur khususnya jelang Idul Adha permintaan daging kambing juga meningkat.

Timbulnya penyakit cacing hati, karena habitat kerbau rawa hanya berkutat diseputar pada rawa dimana makan dan berak ternak ini disatu lokasi saja sehingga kumpai yang menjadi makanannya terkontaminasi tinja.

Namun upaya Diskannak dalam memberikan penyuluhan kesehatan hewan cukup membuahkan hasil, terbukti tidak banyak laporan yang masuk dari masyarakat terkait temuan penyakit cacing hati ini pada hewan kurban.

"Idul Adha tahun lalu saja hanya satu laporan yang masuk dari Desa Sungai Malang Amuntai tentang penyakit ini pada hewan qurban," katanya.

Dengan bekal penyuluhan, masyakarat sudah bisa mengenali penyakit cacing hati dan cukup membuah hati ternak saja sedang dagingnya tetap aman dikonsumsi.

Petugas Keswan setempat sudah mendata kesehatan ternak di 29 pengumpul ternak, dengan jumlah ternak yang sudah di cek kesehatannya sebanyak 310 sapi, 74 kerbau dan 108 kambing.

Sementara harga ternak sapi dan kerbau berbobot 90 kilogram di Hulu Sungai Utara berkisar Rp11,7 juta-Rp12,5 juta per ekor.

Sedang stok sapi di daerah itu keseluruhan diperkirakan 472 ekor, kerbau 331 ekor dan kambing 55 ekor.

"Tidak semua stok ternak ini untuk kebutuhan ibadah Qur`ban di Kabupaten Hulu Sungai Utara, sebagian juga di jual keluar daerah," tandasnya.

  Mengantisipasi permintaan pasokan ternak pada Idul Adha mendatang, Diskannak langsung mendata jumlah hewan Qurban sesudah Idul Adha 2013   


Editor : Asmuni Kadri

COPYRIGHT © ANTARA 2026