Banjarmasin, (Antaranews.Kalsel) - Ketua DPRD Kalimantan Selatan Nasib Alamsyah mengharapkan peristiwa penembakan yang dilakukan Koptu RBW anggota TNI-AU di Bandung, Jawa Barat merupakan yang terakhir bagi TNI.
"Karena peristiwa seperti RBW itu bukan cuma merusak pribadi dan keluarga yang bersangkutan, tapi juga citra korps kesatuan TNI," ujar Kolonel Infantri purnawirawan tersebut, di Banjarmasin, Senin.
Sebab itu, pensiunan perwira menengah TNI-AD tersebut mengimbau semua prajurit TNI, baik dari AD maupun AU dan AL agar mematuhi segala peraturan yang berlaku, termasuk petunjuk atau perintah pimpinan, yang pada dasarnya untuk kebaikan bersama.
"Selaku aparat yang bertugas menjaga keamanan negara, anggota TNI hendaknya juga menjadi pengayom atau pelindung rakyat, bukan sebaliknya, seperti menakut-nakuti masyarakat, terlebih lagi melakukan perbuatan melanggar hukum," tandas politisi senior Partai Golkar tersebut.
Persoalan penegakkan disiplin, terutama bagi prajurit TNI, menurut alumnus Akademi Militer Nasional angkatan 1973 atau seangkatan dengan Susilo Bambang Yudhoyono (kini Presiden RI) itu, pada dasarnya terpulang kepada diri pribadi masing-masing.
"Memang mau apa lagi? Karena pimpinan TNI selalu mengingatkan prajurit agar senantiasa disiplin, serta mematuhi petunjuk atau perintah pimpinan, untuk menjaga citra pribadi dan koprs atau kesatuan," tandas mantan Komandan Korem Bone, Sulawesi Selatan itu.
Begitu pula mengenai sanksi terhadap prajurit yang tidak disiplin atau melanggaran peraturan, sebenarya sudah cukup berat. Seperti teguran dalam bentuk tertulis akan selalu menjadi catatan untuk meniti karir, hingga pensiun, lanjutnya.
Selaku senioran TNI yang sudah pensiun, dia menyatakan, turut malu dan prihatin atas kejadian di "kota kembang" Bandung beberapa hari lalu itu, yaitu seorang oknum anggota TNI-AU yang menembaki rumah kos.
"Apalagi peristiwa tersebut masih dalam suasana peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) TNI. Dimana dalam tekadnya, TNI akan selalu menyatu dengan rakyat," demikian Nasib Alamsyah.
: Imam Hanafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.