Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Maraknya aktivitas pertambangan dikhawatirkan bisa mendatangkan ancaman bencana, ujar Riza Mulyadi, perutusan Provinsi Bangka Belitung mengikuti Pekan Olahraga Wartawan Nasional XI di Kalimantan Selatan 2013.
"Karena dampak dari pertambangan itu terjadi kerusakan alam, yang pada gilirannya dikhawatirkan mendatangkan bencana," lanjutnya, usai diskusi bersama jajaran Antara Kalsel, di Banjarmasin, Rabu.
Ia mencontohkan, kerusakan alam provinsinya Bangka Belitung (Babel) tergolong parah, karena pertambangan timah sejak puluhan, dan bahkan bisa ratusan tahun lalu.
"Pascapenambangan tersebut, hampir tak ada satupun kawasan lahan bekas galian yang bisa direhablitasi dengan baik, dan masih menyisakan kerusakan," ungkap Kepala Biro Antara Babel itu.
"Yang lebih parah lagi, ketika cadangan tambang itu habis, alam tetap rusak dan menimbulkan permasalahan baru bagi penduduk atau masyarakat setempat," lanjutnya dengan nada sedih.
Oleh sebab itu, atlet bridge yang berusia setengah abad lebih tersebut, mengingatkan, Kalsel, sebelum terlambat atau kerusakan alam yang semakin parah karena pertambangan.
Ia menyayangkan, kalau Kalsel yang masih potensian dengan sumber daya alam (SDA) berupa tambang sampai rusak karena aktivitas pertambangan, seperti di Babel terlihat banyak lobang bekas galian.
"Saya kira Kalsel yang belakangan ramai usaha pertambangan batu bara, belum terlambat untuk melakukan penataan dan pengendalian, guna menghidanri kerusakan alam yang semakin parah," demikian Riza.
Sementara anggota kontingen dari Nusa Tenggara Barat (NTB), Masnun mengungkapkan, kegiatan pertambangan oleh PT Nyoumun di provinsinya, yang belakangan ramai menjadi sorotan lembaga swadaya masyarakat bidang lingkungan.
"Karena menurut informasi, kedalaman galian dari perusahaan pertambangan tersebut, kini sudah beberapa meter berada di bawah permukaan laut," ungkap wartawan Biro Antara NTB itu.
"Kalau informasi itu betul, maka dikhawatirkan bisa menimbulkan bencana, yang pada gilirannya membuat ketidaktenteraman penduduk setempat dan dapat mengganggu pembangunan daerah tersebut," demikian Masnun.
Sedangkan di Kalsel sendiri belakangan terdapat beberapa "kawah raksasa" bekas galian tambang batu bara, seperti pada kawasan pertambangan PT Adaro Indonesia, di daerah hulu sungai atau "Banua Anam" provinsi tersebut.
Kawah raksasa itu panjang dan lebarnya mencapai beberapa kilometer, dengan kedalaman ratusan meter, serta belum semua eks kawasan tambang terlihat reklamasi.
Momen Porwanas XI 2013 tersebut tak dibiarkan berlalu begitu saja oleh Biro Antara Kalsel, yaitu dengan mengadakan silaturrahmi sesama wartawan perusahaan umum milik negara itu dari berbagai daerah, guna tukar informasi, pendapatan atau pemikiran.
 Topik pembicaraan dalam pertemuan perutusan wartawan Antara dari berbagai provinsi se-Indonesia itu, mengenai bagaimana memajukan Kantor Berita Indonesia yang dulu bernama Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) agar lebih maju.   Â
: Hasan Zainuddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.