Oleh Syamsuddin Hasan

Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Regeneasi atlet bridge di kalangan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tampaknya sulit, hal itu terlihat pada Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) di Banjarmasin ini, atletnya terkesan masih yang dulu-dulu juga.


Hal tersebut dikatakan Riza Mulyadi, atlet cabang olahraga bridge Porwanas, saat malam malam bersama dengan jajaran LKBN Antara Cabang Kalsel, di Banjarmasin, Selasa malam.

Menurut meraih medali Porwanas Bandung Jawa Barat itu, selain dalam mewujudkan kekompakan dengan teman/pasangan bermain bridge bukan sesuatu yang mudah.

Sebagai contoh, katanya, pasangannya sejak Porwanas VI di Bandung 1996 sampai Porwanas XI di Kalsel tahun 2013, tetap saja yang dulu, padahal beliau sudah berusia 76 tahun, kata Kepala Biro LKBN Antara Bangka Belitung (Babel) itu.

Atlet dari Kontingen PWI Babel itu mengaku bangga bisa lagi mengikuti Porwanas XI dan berhasil meraih medali dalam lomba cabang olahraga bridge.

"Alhamudulillah medali perunggu sudah dalam tangan, mudah-mudahan tim bridge Babel bisa meraih emas pada Porwanas XI ini," demikian Riza Mulyadi.

Momen Porwanas XI tak dibiarkan berlalu begitu saja oleh Biro Antara Kalsel, untuk silaturrahmi sesama wartawan perusahaan umum milik negara itu dari berbagai kontingen, guna tukar informasi, pendapatan atau pemikiran.

Topik pembicaraan dalam pertemuan perutusan wartawan Antara dari berbagai provinsi se-Indonesia itu, mengenai bagaimana memajukan Kantor Berita Indonesia yang dulu bernama Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) agar lebih maju.

Pendapat yang hampir senada tentang sulitnya regenerasi atlet bridge, sebelumnya dari mantan Ketua Pengurus Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (Gapsi) Kalsel H Fahrin Ilham.

Ia mencontohkan, di provinsinya yang terdiri 13 kabupaten/kota hingga tahun 1980-an atlet bridge asal "Bumi Perjuangan Pangeran Antasari" Kalsel juga cukup memberi warna dalam kejuaraan nasional.

"Tapi belakangan cabang olahraga yang menggunakan otak itu, kurang berkembang di Kalsel. Padahal dilihat dari segi sumber daya manusia (SDM) Kalsel juga punya potensi atlet bridge," lanjut mantan anggota DPR-RI tersebut.

"Jadi bagaimana memotivasi agar generasi muda juga mau menyenangi permainan bridge, yang selanjutnya melakukan pembinaan guna mencapai prestasi," demikian Fahrin Ilham.

Sementara Marliyana Rusli, pemain bridge wanita dari Banjarmasin, menyatakan, atlet cabang olahraga tersebut bisa sukses bila betul-betul bermain serius.

"Jadi kalau orang yang cepat bosan, sulit untuk bermain brdige. Karena permainan cabang olahraga ini menuntut keseriusan serta teman bermain yang kompak," ujar wartawati Kalimantan Post itu.

  "Karena pemain bridge itu harus duduk dengan tekun, dan serius memperhatikan permainan lawan ataupun kawan/pasangan sendiri dalam bermain," demikian Marliyana.   


: Hasan Zainuddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026