Seorang perajin kain sasirangan, Eva di Banjarmasin, Selasa mangatakan, saat ini usaha yang dia jalani belum terasa dampaknya akibat perjanjian antara ASEAN dan China Agremen Free Trade Agrement (ACFTA).
Namun, lanjutnya, tidak menutup kemungkinan usaha kain sasirangan yang telah digeluti gulung tikar apabila ACFTA terus berkembang tanpa ada antisipasi cermat dan tepat dari pemerintah.
Jika sebelumnya Jepang memesan kerajinan kain sasirangan khusus ditempatnya sebanyak 80 lembar dengan harga Rp350 ribu perlembar, lanjutnya.
Dengan berpindahnya pasar Jepang kepasar China maka permintaan kain sasirangan ditempatnya bisa berkurang bahkan berhenti sama sekali.
Pemerintah setempat harus menanggapi serius agar usaha-usaha mikro di Kalsel tidak mati perlahan-lahan apalagi kain sasirangan kain khas Kalsel, katanya.
Bukan itu saja, akibat perjanjian itu usaha mikro kecil dan menengah atau UMKM di Kalsel kini mulai gelisah terhadap dampak dari perdagangan bebas antar negara ASEAN dan China itu.
"Kami mulai khawatir produk-produk dari UMKM tidak bisa bersaing dengan produk-produk dari negara China," kata Eva.
Sementara itu, Wakil Ketua UMKM Kamar Dagang Indonesia (Kadin), Sandiaga S Uno di Banjarmasin, mengungkapkan, untuk membentengi dampak dari ACFTA tersebut Kadin pusat akan melakukan langkah penguatan pasar domestik.
Penguatan pasar domestik itu dilakukan dengan cara penggantian label produk luar negeri dengan label Indonesia.
Ia mengimbau kepada para pelaku usaha mikro untuk tidak khawatir akan dampak ACFTA karena dampak itu hanya akan berpengaruh terhadap daerah yang tidak mempunyai hasil sumber daya alam.
Sandiaga mengingatkan ancaman ACFTA merupakan ancaman serius yang paling nyata terhadap bangsa, maka dalam melawan ACFTA itu bangsa Indonesia harus tetap bisa menggunakan dan mencintai produk-produk dalam negeri, katanya.
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.