Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalimantan Selatan Farida Wariansi mengatakan kenaikan harga bahan bakar minyak beberapa waktu lalu hingga kini belum memengaruhi kenaikan harga bahan kebutuhan pokok di Kalsel.
Menurut Farida di Banjarmasin, Selasa, dari hasil pengamatan di beberapa daerah di Kalimantan Selatan terutama di Banua Enam, harga kebutuhan pokok di daerah tersebut masih cukup normal atau stabil.
"Dari pantauan yang kami lakukan mulai Kabupaten Tabalong hingga Hulu Sungai Selatan bahkan Banjarmasin, semua harga kebutuhan pokok masih stabil, tidak ada kenaikan setelah kenaikan harga BBM," katanya.
Diduga, kata dia, masih stabilnya harga barang di seluruh wilayah Kalsel tersebut karena stok di pedagang besar maupun eceran hingga kini masih mel;impah, bahkan diprediksi mencukupi hingga lebaran.
Stok yang cukup tersebut, kata dia, menekan keinginan pedagang untuk memanfaatkan momen kenaikan harga BBM untuk mendapatkan keuntungan secara besar-besaran.
"Kalau stok cukup banyak, pedagang akan pikir-pikir untuk menaikkan harga, Semoga kondisi ini tetap terjaga," katanya.
Farida yakin, bila kondisi seperti saat ini tetap terjaga, kekhawatiran berbagai pihak akan terjadi inflasi cukup tinggi, yang disebabkan kenaikan harga kebutuhan pokok, tidak akan terjadi.
"Mungkin setelah stok lama habis, harga barang baru akan menyesuaikan, karena terkait dengan biaya transportasi," katanya.
Menurut Farida, hingga kini pihaknya terus melakukan koordinasi dengan asosiasi pedagang maupun distributor terkait stok kebutuhan pokok menjelang puasa dan lebaran Idul Fitri.
Dari pertemuan tersebut, kata dia, didapat informasi tentang kendala yang dihadapi dan bagaimana menyelesaikan bersama-sama, sehingga pada saat harga BBM naik, seluruhnya sudah siap.
"Hanya bawang merah yang naik, itupun diyakini bukan karena dampak BBM. Harganya sekitar Rp30 ribu per kilogram, turun bila dibandingkan bulan sebelumnya," katanya.
Sedangkan barang kebutuhan pokok lainnya, baik itu sandang maupun pangan, harganya tetap stabil.
Berdasarkan rapat dengan pemerintah pusat, seluruh distributor telah menaikkan produksinya antara 200 hingga 400 persen, menyambut puasa dan lebaran.
Kepala Divisi Ekonomi Moneter Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Kalimantan Triatmo Doriyanto mengatakan dampak kenaikan bahan bakar minyak biasanya menyebabkan terjadinya inflasi selama tiga bulan.
"Setiap kenaikan harga BBM biasanya akan berdampak pada inflasi. Berdasarkan data historis yang kami kumpulkan menunjukkan `price shock` di wilayah Kalimantan Selatan akibat kenaikan BBM tersebut hanya berlangsung tiga bulan," katanya.
Menurut dia, pemerintah perlu memberikan perhatian serius pada kemungkinan terjadinya "second round effect" yang lebih dipengaruhi oleh ekspektasi masyarakat terhadap harga barang pada umumnya.
Berdasarkan dekomposisi inflasi di Indonesia pada tahun 2007, Bank Indonesia mendapati bahwa ekspektasi inflasi memiliki porsi 56,8 persen dalam pembentukan inflasi.
Angka tersebut jauh melebihi variabel "volatile foods, output gap, supply shocks", dan nilai tukar.
Editor : Asmuni Kadri
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.