Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurti mengatakan pada 2020 Kalimantan bakal menjadi penghasil CPO terbesar nasional mengalahkan Sumatra yang kini menjadi provinsi terbesar penghasil minyak kelapa sawit tersebut.
Menurut Bayu di Marabahan Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan, Selasa mengungkapkan, saat ini perkembangan perkebunan dan industri sawit di Kalimantan antara lain di Kalimantan Selatan cukup pesat.
"Saat ini produksi CPO Kalimantan hampir mengalahkan Sumatra, dan saya kira pada 2020 Kalimantan akan menjadi eksportir CPO terbesar nasaional," kata Wamendag pada peresmian revitalisasi pasar Marabahan.
Kondisi tersebut, kata dia, akan membawa dampak bagi pertumbuhan ekonomi Kalimantan yang cukup pesat dan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat, bila pemerintah mampu mengelola dengan baik.
Sebagai contoh, kata dia, saat ini di Kabupaten Barito Kuala telah ada tiga industri CPO, padahal sebelumnya, Batola merupakan daerah yang hanya dikelilingi lahan rawa.
Kondisi tersebut, kata dia, juga bakal menumbuhkan peluang-peluang baru bagi Batola, antara lain daerah ini bisa dibangun Depo CPO sekala regional, sehingga ekspor bis dilakukan langsung dari Batola.
"Kesempatan-kesempatan yang bisa diciptakan tersebut, yang akan terus kita perjuangkan, untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah," katanya.
Bupati Barito Kuala Hasanudin Murad mengatakan, perkembangan industri di Batola cukup pesat, apalagi dengan terbukanya akses darat antara lain dengan dibangunnya jembatan Rumpiang, dan tersambungnya akses jalan antar kabupaten di Kalsel.
Selama ini, Batola merupakan daerah yang seluruh bagiannya terdiri dari sungai dan rawa, sehingga pembangunan infrastruktur relatif cukup lambat untuk berkembang, sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.
Namun kini, kata dia, banyak akses jalan darat yang telah terbangun, sehingga industri dan perdagangan juga mulai tumbuh cukup menggembirakan.
Bahkan hamparan lahan tidur berupa rawa-rawa, yang sebelumnya tidak bisa dimanfaatkan apa-apa, kini telah disulap menjadi lahan perkebunan sawit.
Pemerintah Kabupaten Batola, kata Hasanudin, menyiapkan sekitar 90 ribu hektare lahan sawit, dan 50 persen dari lahan tidur tersebut telah ditanami dengan tanaman perkebunan sawit.
Dari 90 ribu hektare tersebut, kata dia, 60 ribu hektare merupakan perkebunan inti dan sisanya perkebunan plasma.
"Tentu yang kita cadangkan untuk perkebunan sawit merupakan lahan tidur yang tidak mungkin dimanfaatkan untuk lahan pertanian, sehingga dijamin, perkebunan tersebut tidak akan mengganggu produksi pangan daerah tersebut," katanya.
Menurut dia, setiap keputusan pembangunan baik itu pertanian, perkebunan dan kehutanan, serta infrastruktur lainnya, selalu mengacu pada rancangan tata ruang daerah yang telah disepakati oleh pemerintah daerah, provinsi maupun pusat.
Dengan demikian, kata dia, dipastikan keputusan pembangunan tersebut tidak akan mengganggu fungsi masing-masing.
Editor : Asmuni Kadri
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.