Hal itu diketahui berdasarkan hasil penelitian Balai Penelitian Pembangunan Daerah (Balitbangda) Pemprov Kalsel dan Bappeda kabupaten/kota se-Kalsel bekerja sama dengan Balitbang Kementerian Hukum dan HAM yang dipaparkan di Banjarmasin, Selasa.
Kepala Balitbangda Kalsel, Suryatinah dalam makalahnya menyebutkan rendahnya kualitas guru dapat dilihat dari kualifikasi pendidikan antara lain terdapat sebanyak 89,72 persen guru TK/RA yang belum layak mengajar.
Sedangkan untuk guru SD sebanyak 84,03 persen, SMP, 31,07 persen, SMA/MA 20,40 persen, juga dinyatakan belum layak mengajar.
Selain itu, kata Suryatinah, masih banyak ruang belajar dan sarana pendidikan lainnya yang rusak seperti ruang belajar siswa SD yang rusak ringan sebanyak 3.808, serta rusak berat sebanyak 2.708 ruangan.
Ruang belajar MI yang rusak ringan sebanyak 977 ruangan dan rusak berat 732 ruang. Sedangkan ruang belajar SMP yang rusak ringan 490 ruangan, rusak berat 143 ruangan.
Selain itu, ruang belajar siswa MTs rusak ringan 436 dan rusak berat 276 ruangan.
Menurut Suryatinah, kebijakan pembangun pendidikan Kalsel mengacu pada kebijakan pendidikan nasional yang terdiiri perluasan peningkatan akses pendidikan.
Selain itu, kata dia, juga peningkatan mutu pendidikan dan kebijakan manajemen tata kelola, akuntabilitias dan pencitraan publik.
Untuk mencapai tujuan tersebut masih banyak kendala. Selain kendala tersebut diatas, mutu pendidikan di Kalsel juga masih rendah.
Hal itu berdasarkan data jumlah lulusan siswa SD tahun 2008/2009 sebesar 11.595 siswa yang tidak lulus 4.292 siswa dan jumlah anak putus sekolah sebanyak 156 siswa.
MI, kata dia, jumlah lulusannya sebanyak 4.071 siswa yang mengulang 989 dan anak putus sekolah 45 siswa.
Sedangkan jumlah lulusan SMP sebesar 3.160 siswa yang mengulang 76 siswa dan putus sekolah 178 siswa. MTs jumlah lulusan 2.642 siswa, mengulang 146 dan putus sekolah 127 siswa.
Sementara angka partisipasi kasar (APK) SD 87,83 persen dan angka partisipasi murni (APM) 62,21 persen. Untuk tingkat SMP APK 0,36 persen dan APM 0,52 persen.
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.