Oleh Ulul Maskuriah

Banjarmasin, (Antaranews Kalsel) - Berdasarkan data Bank Indonesia Wilayah Kalimantan tekanan ekonomi terhadap usaha tambang batu bara Kalimantan Selatan kini terus menurun seiring dengan mulai membaiknya harga batu bara internasional dan naiknya kebutuhan ekspor ke berbagai negara.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Kalimantan Mokh Dadi Aryadi di Banjarmasin, Senin, mengatakan bahwa kinerja salah satu sektor utama Kalsel, yaitu sektor pertambangan dengan komoditas unggulan berupa batu bara mengindikasikan pemulihan usaha.

Hal itu, kata dia, tercermin dari optimisme pelaku usaha pertambangan sehingga indikator ekspektasi kegiatan usaha sektor pertambangan meningkat dari -33,3 pada akhir 2012 menjadi -5,56 di triwulan I-2013.

"Peningkatan tersebut berarti, tekanan terhadap sektor batu bara masih terjadi, yang diindikasikan dengan angka -5,56, namun tekanan tersebut jauh turun atau tidak separah pada tahun 2012," katanya.

Indikasi berkurangnya tekanan usaha tersebut, yaitu dengan mulai membaiknya harga batu bara saat ini dibanding pada triwulan kedua maupun ketiga 2012.

Menurut Dadi, pada bulan Juli 2012 harga batu bara anjlok menjadi 57,01 dolar AS per metrik ton sehingga pada saat itu ekspor turun. Kini, harga tersebut mulai naik menjadi 66 hingga 68 dolar AS per metrik ton.

Terjadinya pemulihan usaha sektor tambang tersebut, tambah dia, berpengaruh terhadap meningkatnya optimisme pelaku usaha sektor lainnya, baik itu industri pengolahan maupun perdagangan.

"Membaiknya sektor pertambangan tersebut juga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Kalsel yang pada tahun 2012 sempat mengalami perlambatan," katanya.

Berdasarkan survei Bank Indonesia, secara umum pelaku usaha di Kalsel memiliki sentimen positif terhadap arah perekonomian Kalsel ke depannya.

Sentimen positif dimaksud tercermin dari naiknya angka indikator ekspektasi kegiatan usaha dari hasil survei kegiatan dunia usaha (SKDU) yang dilakukan oleh Bank Indonesia setiap triwulan.

Pada survei SKDU kali ini terjadi kenaikan, yaitu dari 14,18 pada akhir 2012 lalu menjadi 17,79 pada Triwulan I-2013 ini.

"Untuk mendapatkan indeks SKDU tersebut kami wawancara dengan beberapa pelaku usaha, terutama pada sembilan sektor tentang berbagai hal terkait dengan usahanya," katanya.

Beberapa pertanyaan yang diajukan, antara lain, adalah tentang kenaikan jumlah produksi, penjualan, dan tenaga kerja, yang berkaitan dengan usahanya, baik itu sektor pertanian, perdagangan, maupun industri pengolahan, yang mendukung pertumbuhan ekonomi Kalsel.

Dari berbagai pertanyaan yang disampaikan, kata dia, semuanya mengalami indikator kenaikan atau perbaikan setelah terjadinya krisis Eropa yang terjadi sejak beberapa tahun terakhir.

Di sisi lain, untuk sektor pertanian, pada Triwulan I-2013 ini tampaknya pelaku usaha justru masih belum mengindikasikan sentimen positif.

"Akan tetapi, itu masih wajar jika kita melihat siklus bisnis sektoral untuk subsektor tanaman pangan yang pada Triwulan I umumnya merupakan masa tanam padi di beberapa sentra pertanian Kalsel sehingga produksi tanaman pangan tidak akan setinggi triwulan sebelumnya," katanya.

Demikian halnya untuk subsektor perkebunan yang juga belum mengindikasikan peningkatan kinerja.

Meskipun demikian, prospek perkebunan diperkirakan akan semakin cerah bila dilihat dari membaiknya prospek harga komoditas di pasar internasional dan pemulihan ekonomi di negara Amerika diharapkan akan mendorong pelaku usaha untuk meningkatkan produksi.

Sebagaimana diketahui perekonomian Kalimantan Selatan pada tahun 2012 tumbuh melambat jika dibandingkan dengan perekonomian tahun sebelumnya, yaitu dari 6,12 persen menjadi 5,73 persen.

Namun, tambah Dadi, meskipun mengalami perlambatan, apabila dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan selama 10 tahun terakhir yang rata-ratanya sebesar 5,3 persen, pertumbuhan ekonomi Kalsel pada tahun 2012 masih terbilang berada pada level relatif tinggi.

Melihat arah perkembangan perekonomian global dan perekonomian domestik, Dadi Aryadi optimistis bahwa prospek perekonomian Kalsel akan tumbuh lebih baik pada tahun 2013.


Editor : Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026