Bupati Kotabaru, Kalimantan Selatan H. Irhami Ridjani menyatakan, Jembatan Pulau Laut  Kalimantan harus jadi atau terwujud mengingatkan fungsi yang cukup vital bagi perkembangahn Kotabaru dan Kalimantan secara umum.

Pernyataan tersebut dikemukakannya dalam ekspose program Community Development/ Corporate Social Responsibility sejumlah peruahaan di Hotel Grand Surya Kotabaru, Rabu menyusul masih belum jelasnya lokasi jembatan karena sebagian masuk kawasan hutan cagar alam.

Menurut dia, dengan dibangunnya jembatan yang menghubungkan  Pulau Laut yang memiliki  enam kecamatan dengan daratan Kalimantan itu akan terbuka daerah terisolasi untuk menjadi daerah yang maju dan dapat mengejar ketertinggalan.

"Yang tidak kalah penting akan mendorong percepatan pembangunan di wilayah Kotabaru dan sekitarnya," jelas Irhami.

Efek ganda setelah dibangunnya jembatan akan dirasakan oleh masyarakat didaerah-daerah yang kini masih tertinggal karena faktor transportasi.

Banyak faktor yang menjadi kendala dalam upaya Kotabaru mengejar ketertinggalan dengan daerah lain.

Diantaranya faktor geografis mengingat wilayah Kotabaru yang terdiri atas 110 pulau besar dan kecil itu masyarakatnya masih lebih dominan menggunakan alat transportasi laut.

Jika Pulau Laut dengan Kalimantan sudah terhubung, Irhami yakin laju pertumbuhan ekonomi Kotabaru melebihi pertumbuhan ekonomi nasional yakni di atas enam persen.

Dia juga optimistis setelah jembatan sepanjang 3,5 km itu dibangun dan transportasi lancar tidak lagi dibatasi waktu seperti saat masih menggunakan kapal penyeberangan maka akan tumbuh industri-industri kecil di daerah.

Sebelumnya bupati mengatakan, pembangunan jembatan yang menghubungkan Tanjung Ayun-Tarjun dengan panjang 3,5 km dengan biaya  Rp1 triliun itu akan dilaksanakan oleh investor  perusahaan bijih besi Group PT Sebuku Iron Lateritic Ores (SILO) dengan sistem hibah.

Rencananya pembangunan jembatan tersebut akan dilaksanakan oleh perusahaan konstruksi T.Y.Lin International Engeneering Consulting asal China dengan waktu sekitar 30 bulan. (C/A)




Editor : Abdul Hakim Muhiddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026